Janji rumah relokasi pun belum terwujud penuh. “Dulu kami tanam padi, jagung, dan jambu mete. Sekarang tidak punya tanah. Uang habis, pekerjaan hilang,” tutur seorang warga di Rendu, matanya kosong menatap bukit gersang di tepian proyek.
Menakutkan, Bukan Melindungi
Sejak masa Kapolres Nagekeo AKBP Yudha Pranata, kawasan Waduk Lambo menjadi wilayah mencekam. Mirip medan perang ala mafia Nagekeo. Warga mencurigai siapa pun yang datang dari luar.
Bahkan aparat sipil daerah kesulitan melakukan sosialisasi karena “pintu masuk” waduk dikuasai aparat bersenjata. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah proyek strategis nasional (PSN) boleh dijalankan dengan atmosfer ketakutan?
Kehadiran Babinsa (TNI) memang kemudian terlihat, namun peran mereka terbatas.
Kewenangan keamanan tetap di tangan Polres. Ironisnya, sebagian warga justru melihat aparat polisi sebagai bagian dari masalah, bukan solusi.
Polres Nagekeo perlu segera direformasi. Mabel Polri perlu mengirimkan tim independent-yang tidak terkait Polda NTT-agar akar kejahatan di tubuh Polres Nagekeo bisa dibongkar hingga ke akar-akarnya. Reformasi Polri perlu dimulai dari Nagekeo.
Jangan biarkan oknum Polres apalagi oknum pimpinan institusi negara yang berwibawa menjadi, diduga kuat: pemimpin mafia. Polisi harus menjadi penjaga Kamtibmas yang adil dan alat penegak hukum (APH)yang jujur.
Kasus Konkret
Media VixNtt.com edisi (5/10/2025) membantu kita memahami fakta kekerasan aparat yang diduga membekingi “tuan tanah palsu” untuk meneror warga buta hukum dalam soal tanah ulayat di area seputar waduk Lambo.
Gaspar Raja, asal Dusun Malapoma, Desa Rendubutowe, Kecamatan Aesesa, Nagekeo memilih tidak mau menghadapi proses hukum atas laporan dari “tuan tanah palsu” yang begitu sigap dan cekatan ditangani Polres Nagekeo. Apakah karena ada udang waduk Lambo di balik laporan “tuan tanah palsu?”
Bayangkan ada 12 apartat polisi yang menyergap rumahnya, 25 Juli 2025. Herannya, 12 polisi itu hanya menangkap angin. Hanya tangkap orang kampung saja dikerahkan 12 personel. Itu pun tanpa hasil. Rupanya 12 polisi itu belum dicuci otaknya oleh KH Destroyer.










