Respon Warga Komodo Soal Penutupan Taman Nasional Komodo - FloresPos Net

Respon Warga Komodo Soal Penutupan Taman Nasional Komodo

- Jurnalis

Senin, 5 Agustus 2024 - 09:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nur Cahya, Ketua Persatuan Ibu-Ibu Kantin Loh Liang

Nur Cahya, Ketua Persatuan Ibu-Ibu Kantin Loh Liang

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Warga Desa Komodo Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menolak keras penutupan Taman Nasional Komodo (TNK) walau masih rencana.

Demikian penegasan Nur Cahya, Ketua Persatuan Ibu-Ibu Kantin Loh Liang di sela-sela kesibukannya melayani wisatawan dari berbagai negara di kantinnya di Loh Liang, Sabtu (3/8/2024).

Nur Nahya dimintai tanggapan terkait wacana penutupan Taman Nasional (TN) sebagaimana ramai diberitakan berbagai media akhir- akhir ini. Loh Liang bagian dari Pulau Komodo, Desa Komodo Kecamatan Komodo Mabar NTT.

Menurut Nur Cahya, jika wacana penutupan TNK kelak menjadi kenyataan, hampir pasti mereka hidup miskin. Anak-anak mereka tidak bisa sekolah, tak bisa kuliah akibat kesulitan biaya karena hasil kurang, pendapatan terbatas.

Dengan kembali ke profesi lama sebagai nelayan, sumber hidup hanya di laut, cari dan tangkap ikan untuk dijual dapat uang buat biaya hidup, hampir pasti dunia konservasi setempa terancam. Kewatir pelestarian lingkungan di TNK tidak jamin, akan terganggu. Karang-karang lautnya akan rusak, bahkan mati. Pukat-pukat nelayan mungkin tersangkut di sana saat pencarian/penangkapan ikan.

Baca Juga :  Bimtek Pendidikan Inklusif Upaya Konkret   Buka Akses Pendidik Merata  Bagi Anak-Anak di  Manggarai

Selain pukat, warga juga bakal menggunakan kayu untuk jungkir balikan karang-karang cari mata tujuh (sejenis kerang). Sama seperti ikan, mata tujuh juga dijual untuk dapat uang disamping buat  makan.

Atas hal-hal tersebut, masyarakat Desa Komodo menolak dengan tegas apabila TNK kelak nanti ditutup, khususnya Persatusn Ibu-Ibu Kantin Loh Liang.

“Mumpung sekarang masih rencana, sikap ibu-ibu kantin Long Liang jelas, menolak keras penutupan Taman Nasional Komodo, tegas Nur Cahya.

Lanjut Nur Cahya, dulu seluruh penduduk pulau/Desa Komodo berprofesi sebagai nelayan. Tetapi tahun-tahun belakangan sudah beralih profesi berusaha di sektor pariwisata, antara lain berjualan di Loh Liang seperti yang mereka geluti/tekuni.

“Dulu kita semua nelayan. Tetapi sekarang sudah di pariwisata, dan itu sudah sebagian besar. Sekitar sembilan puluh lima persen sudah di pariwisata, sisanya lima persen masih nelayan,” ujar Nur Cahya.

Nur Cahya juga mengaku belum tahu wacana/rencana penutupan TNK, karena pihak Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) belum pernah mensosialisasikan hal itu kepada mereka selama ini.

Baca Juga :  Loymans: Kondisi DPRD Mabar "Sakit"

Komang, Kepala Resor Loh Liang (Seksi Pengelolaan TNK Wilayah 2 Loh Liang) menolak menanggapi terkait suara Ketua Persatuan Ibu- Ibu Kantin Loh Liang, Nur Cahya.

“Saya tidak bisa menanggapnya. Sebaiknya ke BTNK saja,” singkat Komang di tempat berbeda pada kesempatan itu.

Wakil Bupati Mabar, Yulianus Weng pada titik berbeda saat itu, mengatakan, penutupan Taman Nasional Komodo masih wacana, masih rencana. Dan hal itu melalu kajian terlebih dahulu.

Wacana penutupan TNK, ungkap Wabup Weng, konon atas alasan konservasi. Tapi bukan tutup total, menggunakan sistim buka tutup, itu bagus. Tetapi yang namanya kebijakan hampir pasti ada plus minusnya, katanya.

Pantuan media ini, Sabtu (3/8/2024), kawasan Loh Liang Pulau Komodo, disemuti wisatawan. Perairan laut kawasan TNK juga disesaki kapal-kapal turis, antara lain di Padar Selatan dan kawasan Ping Beach. *

Penulis: Andre Durung I Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Pertama di Maumere, HM Infinity Sport dan Kafe Padukan Olahraga, Permainan Anak dan Kafe
RUPS Bank NTT Digelar di Ende, Ini Agenda Penting yang Dibahas
Ini Cara Pelaku Masuk di Gereja YKI Aeramo dan Santo Ardianus Tuhtuhbha
Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur Belum Kantongi Izin Lingkungan, Kadis DLH: Sedang Berproses
Uniflor Teken MoU dengan Pemkab SBD, Ratu Wulla: Kita Kolaborasi untuk Bangun Daerah
Nagekeo Telah Kantongi Perda Perlindungan Sawah, Jadi Daerah Pertama yang Diapresiasi Kementerian ATR/BPN
Jadikan Pulau Kelor Spot Unggulan Manggarai Barat
Pemkab Manggarai Barat Diminta Kelola Pulau Kelor, Wisatawan Kunjung 24 Jam
Berita ini 879 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:56 WITA

Pertama di Maumere, HM Infinity Sport dan Kafe Padukan Olahraga, Permainan Anak dan Kafe

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:36 WITA

RUPS Bank NTT Digelar di Ende, Ini Agenda Penting yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:58 WITA

Ini Cara Pelaku Masuk di Gereja YKI Aeramo dan Santo Ardianus Tuhtuhbha

Jumat, 15 Mei 2026 - 07:37 WITA

Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur Belum Kantongi Izin Lingkungan, Kadis DLH: Sedang Berproses

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:03 WITA

Uniflor Teken MoU dengan Pemkab SBD, Ratu Wulla: Kita Kolaborasi untuk Bangun Daerah

Berita Terbaru

Nusa Bunga

RUPS Bank NTT Digelar di Ende, Ini Agenda Penting yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:36 WITA