Mungkin itu hasil didikan “bos” kaisar hitam yang dibela habis-habisan sampai kehilangan martabat sebagai orang beradat Nagekeo.
Publik Nagekeo sudah tahu, siapa yang masuk golongan mafia yang sedang mencengkeram Nagekeo saat ini. Suara besar dan tampang fisik mirip preman tidak pernah menyurutkan keberanian untuk bersuara benar.
Kita tunggu saja, setelah tulisan ini para mafioso yang selama ini bersembunyi nyaman, mulai keluar satu per satu untuk “bernyanyi” membela “patung berhalanya.”
Suara yang membesar karena menahan bandang emosi setelah dikuliti sampai ke sumsum, membuktikan bahwa selama ini mereka mengais hidup dari hak orang-orang kecil dan sederhana di Nagekeo yang buta hukum.
Kita mengajak publik Nagekeo khususnya kaum muda agar bangkit melawan, maaf: dugaan pengacara gagal di Jakarta yang berubah rupa menjadi monster yang melumat siapa saja khususnya rakyat kecil pemilik tanah yang menerima ganti rugi.
Kata-kata penuh amarah keluar dari penerima manfaat dan para aktornya yang blingsatan disayat opini sederhana saja. Memang kita akan menghadapi kelompok penerima manfaat yang sudah nyaman sekian lama sebagai peneror. Orang-orang ini biasa bekerja dengan teror. Dan suara kebenaran tidak pernah boleh kalah atau dikalahkan oleh teror jahat.
Lebih tragis lagi, ada oknum aparat yang memanfaatkan kelemahan warga laki-laki dengan mengirim “ladies”-wanita panggilan dari kafe di Roe-serta minuman keras untuk menguras sisa uang kompensasi.
Uang yang seharusnya menyejahterakan keluarga justru menguap di malam-malam kelam hasil setingan oknum aparat polisi yang kafenya buka 24 jam nonstop. Ini sebuah petunjuk bagi Gereja untuk memperkuat benteng kehidupan keluarga yang begitu loyo di hadapan permainan “malam kelam” yang disetting oleh orang seagama juga.
Kita sesalkan kok orang Katolik yang kebetulan punya secuil kuasa bisa terlibat melakukan kejahatan sistematis. Menjadi saudara orang suci tidak pernah menjamin yang bersangkutan juga hidup baik dan benar.
Dari “Ganti Untung” ke “Ganti Buntung”
Pada 2023, sempat tercatat lebih dari 50 mobil baru milik warga terdampak waduk. Kini, tinggal belasan unit yang masih beroperasi. Sisanya dijual kembali untuk bertahan hidup. Banyak keluarga kehilangan lahan pertanian tanpa lahan pengganti.










