Tetapi jika gerombolan mafia terus bermain dan negara membisu, maka bendungan itu akan dikenang bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan monumen ketidakadilan.
Air belum mengalir dari Waduk Lambo. Yang mengalir baru air mata rakyat kecil yang kehilangan tanah dan keadilan serta tidak berdaya di hadapan teror gerombolan mafia yang kesetanan melihat aliran uang dari bibir waduk Lambo.
Ketika Gereja bersama umatnya, terutama kelompok elite politik-birokrasi di Nagekeo tidak bungkam di hadapan fakta adanya mafia di waduk Lambo dan terus bersuara karena tidak berjarak dengan umatnya yang sedang diperas para mafia, harapan itu tetap hadir. Jika tidak, kita sedang mengarak salib menuju ke bibir waduk Lambo untuk menyalibkan umat kita sendiri. *
Jurnalis, Penulis Buku “Politik Dusta di Bilik Kuasa”, Pendiri Oring Literasi













