Ketika Mafia “Merampok” Rezeki Warga di Waduk Lambo - FloresPos Net - Page 3

Ketika Mafia “Merampok” Rezeki Warga di Waduk Lambo

- Jurnalis

Senin, 6 Oktober 2025 - 13:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Steph Tupeng Witin

Steph Tupeng Witin

Ketika Mafia Bekerja Sistematis

Warga di Rendu Butowe, Kawa-Lambo, dan Ndora seharusnya menerima ganti untung berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar per pemilik, tergantung luas dan tanaman produktif. Tapi sebagian besar hanya menerima secuil.

Sumber di lapangan menyebutkan, “mafia waduk” bekerja dalam jaringan terstruktur:

* Oknum polisi bertindak sebagai koordinator lapangan dan pelindung.

* Oknum pengacara menawarkan “jasa” untuk memperjuangkan hak warga dengan imbalan uang muka besar.

* Oknum BPN memainkan peta bidang dan sertifikasi.

* Oknum wartawan dipakai untuk membangun citra “resmi” dan menekan suara kritis. Oknum wartawan ini adalah gerombolan dan barisan wartawan piaraan polisi sejak era Kapolres Yudha yang juga dikenal sebagai pemimpin Kaisar Hitam (KH) Destroyer. Ada juga jenis wartawan yang masuk barisan inti piaraan aparat yang dikenal di kalangan jurnalis Nagekeo lebih sebagai “petinju” tapi bukan dalam acara pesta adat di Nagekeo yang lebih bermartabat itu.

Baca Juga :  Ringankan Beban Biaya Pengobatan Masyarakat, Bupati Don Hadirkan 13 Dokter Spesialis

Modusnya beragam. Ada pengacara yang mendatangi warga dengan janji, “Bapak akan terima Rp 1 miliar, tapi perlu bayar jasa Rp 250 juta dulu.” Setelah uang berpindah tangan, janji menguap.

Ketika korban melapor ke Polres, laporan diabaikan karena pengacara itu teman polisi sendiri. Diduga kuat, sama-sama berkolaborasi.

Baca Juga :  Tolak Geothermal, Lawan Kebohongan (Catatan Sekenanya atas Laporan Tim Satgas Geothermal Flores-Lembata)

Kalau polisi dikritik secara beradab melalui media resmi, pengacara para mafia itu mulai keluar dari lubang persembunyian lalu sibuk membela bos mati-matian di media abal-abal yang diduga pemilik dan wartawannya sudah kena tatar dari dulu.

Prioritas utama dari gerombolan mafia adalah penampilan fisik. Bersuara garang di media sosial. Gaya premannya kelihatan meski dibumbui dengan pasal-pasal dan ayat-ayat  yang tidak laku dalam pertarungan intelektual di Jakarta dan laris manis sebagai teror bagi pemilik tanah waduk Lambo.

Berita Terkait

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)
Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo
Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis
Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia
Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)
Polemik, Kronologi 14 Bidang Tanah dan Terempasnya Dus Wedo
Mempertanyakan Posisi Moral Pater Mill (Catatan Sekenanya Saja untuk Tulisan di Media Luar Jangkauan)
Rakyat Nagekeo Harus Tolak Bungkam (Dukungan untuk Suku Redu, Isa dan Gaja)
Berita ini 2,824 kali dibaca
REDAKSI: "ORING" hadir setiap Senin dan Kamis dalam sepekan. Hanya di Florespos.net

Berita Terkait

Senin, 3 November 2025 - 18:05 WITA

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)

Kamis, 30 Oktober 2025 - 15:23 WITA

Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:55 WITA

Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 13:18 WITA

Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:55 WITA

Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Polemik “Pers Perut Kosong” Berakhir, Odorikus Minta Maaf

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:47 WITA