Oleh: Steph Tupeng Witin
MARK Twain merupakan nama samaran dari Samuel Langhorne Clemens (1835-1910). Dia diakui sebagai salah satu penulis Amerika paling penting. Ia memulai karier menulis saat mencari emas di wilayah Nevada (1861).
Pengalaman mencari emas itu ia rangkai dalam buku berjudul “Roughing It” yang edisi terjemahannya dalam Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia dengan judul “Blusukan Mark Twain” (2017).
Mark Twain mengatakan bahwa tambang adalah lubang yang digali oleh para pembohong. Lubang itu memang menjadi jalan paling instan untuk mendapatkan uang sekaligus jembatan paling jahat untuk membunuh keberlanjutan hidup.
Mental instan ini yang paling digemari oleh pengusaha hitam yang patut diduga sekelas penjahat lingkungan. Investor tambang ini paling getol membayar ongkos dalam proses politik dan demokrasi dari politisi murahan yang angkuh.
Maka masuk akal kalau setelah memenangkan kontestasi, penguasa politik lebih kerap memberi porsi waktu kampanye geothermal dan tambang lainnya. Semua event selalu diisi obralan geothermal dengan balutan klaim usang dan basi: energi terbarukan.”
Padahal geothermal yang diklaim “energi terbarukan” itu memiliki daya rusak dan energi penghancur kehidupan paling sadis. Pemimpin-pemimpin kita sebenarnya tahu dampak buruk penghancuran lingkungan itu.
Orang-orang ini lebih pantas kita sebut pemimpin geothermal dan penguasa lubang tambang. Mengapa? Karena mereka sedang menggali kuburan karier politiknya di lubang geothermal dan tambang lainnya.
Kita menduga, Tim Satgas Geothermal Flores-Lembata memang dibentuk untuk mengampanyekan mega proyek PLN yang berdaya penghancur tubuh bumi paling mematikan.
Tim ini katanya terdiri dari para professional yang pasti dibayar mahal untuk memberi rekomendasi yang menyenangkan pembayarnya.
PLN sangat bernafsu tinggi hampir tak tertahankan untuk menghancurkan keutuhan lingkungan dan menghentikan keberlanjutan hidup. Omong kosong “energi terbarukan” model dari belahan dunia mana?
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










