Kita patut menduga Tim Satgas hanya menginventarisasi argumen penolakan kelompok kritis (Gereja, aktivis) dan rakyat pemilih kedaulatan atas tanah agar mereduksinya menjadi sebuah lapangan kerja baru bagi Satgas.
Laporan Satgas bahwa mayoritas rakyat mendukung geothermal itu omong kosong besar. Rakyat menolak geothermal itu harga mati. Tidak bisa dikalkulasi seenaknya oleh Satgas dalam laporan dengan sebutan “mayoritas dan minoritas.”
Ketika sebuah program pembangunan ditolak warga seorang pun, pembangunan itu mesti dihentikan, bukan dikalkulasi atas nama “mayoritas dan minoritas.” Hidup seorang warga pun mesti dimuliakan.
Satgas yang diisi para akademisi memberi generalisasi prematur tapi pasti professional di mata kekuasaan. Rakyat di lokasi proyek sudah menolak sejak awal. Di Watuwawer dan Waiwejak, Atadei, Lembata, mayoritas rakyat menolak karena PLN merekayasa banyak fakta.
Di Waiwejak, PLN gembar-gembor sana-sini bahwa rakyat menerima geothermal tapi ketika diselidiki lebih jauh ternyata orang asal Waiwejak yang lama hidup dari uap panas bumi di Bandung dan aparat ASN asal Wawejak yang bersekutu membohongi rakyat dengan informasi yang sepihak.
Geothermal itu seperti “surga” yang keluar dari mulut PLN dan antek-anteknya. Banyak fakta di Lembata: PLN lebih banyak berbohong ketimbang berkata jujur dengan realitas penolakan warga.
Geothermal dan tambang memang lubang yang sedang digali oleh PLN dan antek-anteknya, termasuk Tim Satgas, untuk berbohong kepada semesta.
Fakta lain yang ditemukan di Ende, Mataloko, Poco Leok dan Lembata adalah akses warga yang menolak geothermal sangat dibatasi oleh Tim Satgas.
Kelakuan yang sama dilakukan oleh PLN di seluruh Flores dan Lembata. Rakyat dipecah-belah dengan politik “devide et impera” zaman kolonial antara menerima dan menolak. Obat penenang: uang dan proyek-proyek CSR “dadakan.” Kalau PLN tidak incar proyek geothermal, tidak mungkin ada proyek “dadakan.”
Rakyat di mata PLN sama dengan anak PAUD yang ditutup mulutnya dengan proyek “dadakan.” Sebuah penghinaan ala PLN yang sadis.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










