Keutuhan hidup rakyat dicabik-cabik oleh kepentingan perusakan alam. Bahkan dukungan itu dikalkulasi juga dari warga wilayah lain di luar lokasi yang ditolak keras.
Selalu ada upaya untuk membangun opini bohong dengan argumen prematur hanya untuk menyelamatkan wajah kekuasaan yang pongah.
Laporan Tim Satgas malah menghina rakyat lokal dengan opini murahan bahwa penolakan itu karena “kurangnya pengetahuan.” Tim Satgas itu lebih pengetahuan apa?
Kelebihan Tim Satgas adalah maju tak gentar membela yang membayar. Penghinaan bahwa rakyat “kurang pengetahuan” itu meniadakan proses dialog yang akan membuka kearifan pengetahuan warga lokal yang konsisten menolak geothermal sejak awal. Warga sesederhana apa pun punya pengetahuan, sekurang-kurangnya tentang realitas yang dihidupi turun temurun.
Tuntutan politik warga yang menolak dicegah sedini mungkin agar kebijakan publik yang hendak merusak keutuhan alam dimenangkan. Perilaku primitif yang jahat. Padahal warga tahu risiko kehancuran hidup yang bakal diterima ketika tuntutan penolakannya diabaikan.
Rakyat tidak sebodoh klaim Satgas yang hanya menjadi perpanjangan kekuasaan untuk menunjukkan kepada investor bahwa “yang dulu kamu bayar itu” sudah berupaya maksimal.
Maka kita ingatkan pemerintah terlebih dulu bahwa penolakan warga itu sinyal awal dari tindakan “ikutan” yang lebih besar lagi. Jangan coba-coba memperdaya rakyat kecil dengan memakai baju Satgas sekalipun!
Tim Satgas mungkin saja belajar untuk menghancurkan alam di luar negeri, mungkin ada yang belajar di luar angkasa, tapi jangan pernah menganggap sepele rakyat kecil di kampung-kampung.
Selama ini warga lingkar tambang dan geothermal memiliki jejaring tersendiri untuk saling berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman konkret untuk saling meneguhkan. Banyak aktivis lingkungan, pejuang kemanusiaan dan institusi agama yang setia berjuang bersama rakyat kecil.
Kasus Mataloko misalnya, rakyat kecil menolak masif meski pemerintah Ngada secara struktural mengklaim itu sebagai kelompok minoritas. Urusan kemanusiaan itu tidak ada diksi mayoritas dan minoritas.
Saat hadir dalam aksi tolak geothermal di Kemah Tabor Mataloko beberapa waktu lalu, Pater Felix Baghi SVD dan warga Mataloko korban kebodohan PLN menyatakan ketegaran sikapnya menolak geothermal. Suasana sangat mencekam kala itu.
Aparat pemerintah Ngada dari level desa sampai kabupaten semua berdiri memegang kamera HP untuk membuat video. Sayang sekali, pemerintah Ngada abai dengan suara rakyatnya yang gelisah di hadapan realitas alam terancam rusak dan kehidupan yang dipaksa “berhenti.” Solusi instannya: relokasi dan ganti rugi.
Di otak pemerintah, manusia itu sama dengan sebongkah batu yang bisa digeser kapan pun dan barang rombengan di pasar senggol yang bisa dibayar murah.
Marka Twain benar bahwa tambang, termasuk geothermal adalah lubang yang digali oleh para pembohong. Seluruh proses sosialisasi yang diklaim PLN sebagai arena pencerahan justru menjadi ruang pembodohan yang masif. Di banyak tempat, daftar hadir malah menjadi bukti dukungan.
Di negeri ini, omongan elite politik, termasuk Tim Satgas tidak dapat dipercaya. Laporan Tim Satgas Geothermal Flores Lembata diduga penuh rekayasa, kaya klaim bodong, sarat kebohongan dan penuh argumen prematur.
Kita mendesak pemerintah agar segera membentuk Tim Satgas Bidang Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan untuk meneliti dan mengembangkan potensi di NTT yang sangat kaya dan menjanjikan.
Saatnya rakyat kuburkan Tim Satgas Geothermal Flores-Lembata dengan konsistensi sikap menjaga keutuhan alam dan keberlanjutan lingkungan. Mari kita tolak geothermal dengan nurani terjaga untuk melawan bandang kebohongan para bandit. *
Penulis, Jurnalis, Pendiri Oring Literasi Lembata










