Oleh: Sumardi
PEMILIHAN kepala desa adalah bagian dari demokrasi yang memberi kesempatan kepada masyarakat, untuk menentukan pemimpin terbaik.
Namun, demokrasi akan kehilangan maknanya, apabila perbedaan pilihan justru memecah belah keluarga, merenggangkan hubungan antar tetangga, dan mengikis semangat persaudaraan dan kekeluargaan, yang selama ini menjadi kekuatan utama desa.
Desa dibangun di atas nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, dan saling menghormati. Karena itu, politik di desa seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, dan menawarkan solusi, bukan arena saling menghina, intimidasi, provokasi yang menumbuhkan kebencian satu sama lain.
Pilihan politik bersifat sementara, sedangkan hubungan keluarga dan persaudaraan akan terus berlanjut. Dalam setiap kontestasi, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar.
Setiap warga memiliki hak untuk menentukan pilihan sesuai hati nurani, tanpa tekanan, ancaman ataupun intimidasi. Menghormati pilihan orang lain merupakan salah satu ciri kedewasaan dalam berdemokrasi.
Politik yang santun juga berarti mengedepankan etika. Para pendukung maupun calon hendaknya menyampaikan program, visi, dan misi dengan bahasa yang baik, serta menghindari serangan personal.
Masyarakat pun perlu bijak dalam menggunakan media sosial. dengan tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Setelah pemilihan usai, siapa pun yang terpilih adalah pemimpin bagi seluruh masyarakat desa. Saat itulah semua perbedaan harus diakhiri, dan diganti dengan semangat bekerja bersama membangun desa.
Tidak ada lagi kubu-kubu yang saling berhadapan, karena tujuan kita sama, yaitu kemajuan dan kesejahteraan desa. Mari jadikan setiap pemilihan kepala desa sebagai pesta demokrasi yang bermartabat.
Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai merusak hubungan keluarga, persahabatan dan kekerabatan. Boleh berbeda dukungan, tetapi jangan sampai menghilangkan rasa hormat.
Sebab, desa yang kuat bukan hanya karena memiliki pemimpin yang baik, tetapi juga karena masyarakatnya mampu menjaga persaudaraan di atas segala perbedaan.
Jabatan memiliki batas waktu, tetapi keluarga dan persaudaraan adalah ikatan seumur hidup. Karena itu, jangan biarkan politik sesaat merusak hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun. *
Penulis adalah Kepala Desa Siru, Kabupaten Manggarai Barat, NTT
Editor : Wall Abulat










