Oleh: Frater Edwantra Da Silva Duwar
PERSOALAN tambang di Manggarai, Flores, khususnya di wilayah Jengkalang, telah menjadi salah satu isu sosial yang memicu perdebatan panjang dan tajam di tengah masyarakat.
Di satu sisi, kehadiran industri tambang dipandang oleh sebagian warga sebagai sebuah peluang emas untuk melepaskan diri dari jerat keterbatasan ekonomi.
Harapan besar digantungkan pada sektor ini: pembukaan lapangan pekerjaan baru, perbaikan infrastruktur yang selama ini terabaikan, dan percepatan roda perekonomian daerah. Namun di sisi lain, kecemasan mendalam yang beralasan terus menghantui.
Kerusakan struktur tanah, pencemaran sumber air, terkikisnya ruang hidup masyarakat adat, serta ancaman ekologis bagi generasi masa depan menjadi hantu yang menakutkan.
Situasi dilematis ini menunjukkan bahwa persoalan tambang di Jengkalang bukan sekadar konflik hitam-putih antara kelompok pro-pembangunan dan kontra-pembangunan.
Ini adalah sebuah pergulatan moral eksistensial tentang bagaimana kita, sebagai manusia, mendefinisikan kembali hubungan integral antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, hak tanah adat, dan martabat kehidupan bersama.
Bagi masyarakat Manggarai, tanah dan alam bukan sekadar komoditas ekonomi semata. Alam adalah rahim identitas budaya dan spiritualitas hidup. Oleh karena itu, luka pada alam secara otomatis menjadi luka sosial dan kultural yang menganga bagi komunitasnya.
Meneropong Konflik lewat Kacamata Laudato Si
Di tengah situasi yang kian memanas, Ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus hadir sebagai kompas moral yang jernih. Dalam dokumen profetis tersebut, Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah “rumah bersama” (oikos) yang harus dijaga oleh seluruh umat manusia.
Beliau mengingatkan dengan lantang bahwa “jeritan bumi” tidak pernah bisa dipisahkan dari “jeritan kaum miskin”. Dalam konteks riil di Jengkalang, dampak destruktif kerusakan lingkungan selalu pertama-tama dan paling berat dirasakan oleh masyarakat kecil mereka yang hidupnya bergantung langsung pada kemurnian tanah, air, dan hutan sekitar. Jika disintegrasi ekologis ini dibiarkan tanpa kendali, lantas bagaimana nasib spiritualitas dan keberlanjutan tanah adat di masa depan?
Secara radikal, Laudato Si’mengkritik model pembangunan yang berpusat pada teknokrasi dan keuntungan finansial jangka pendek.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










