Paus Fransiskus menolak paradigma modern yang memandang alam sekadar sebagai objek eksploitasi tanpa batas demi keserakahan sesaat. Alam semesta memiliki nilai intrinsik karena ia adalah ciptaan Allah. Melalui refleksi ini, kita semua ditantang untuk membongkar kebebalan ekologis dan membangun kesadaran baru yang lebih bertanggung jawab.
Otokritik Suara Kenabian Gereja Lokal
Namun, untuk menghasilkan refleksi yang jujur, mata kritis juga harus diarahkan pada institusi kita sendiri: Gereja lokal. Harus diakui secara jernih bahwa dalam pusaran konflik tambang belakangan ini, Gereja lokal kerap menampakkan sikap yang ambigu dan gagap.
Di satu kubu, ada oknum tokoh Gereja yang terlalu cepat menjatuhkan vonis penolakan mutlak tanpa mau menyelami kedalaman penderitaan dan kemiskinan konkret yang menjerat umatnya.
Sementara di kubu seberang, ada pula yang terjebak dalam pragmatisme ekonomi dan relasi kuasa, sehingga kehilangan keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran demi membela lingkungan dan kaum marginal. Sikap mendua ini melahirkan dilema pastoral yang membingungkan umat di akar rumput.
Gereja lokal tidak boleh hanya menjadi menara gading yang melontarkan khotbah moral manis dari balik mimbar yang nyaman. Gereja harus hadir sebagai saksi dan pendamping yang mau mendengarkan detak jantung kecemasan umat.
Banyak warga kecil mendukung tambang bukan karena mereka membenci kelestarian alam, melainkan karena perut yang lapar tidak memberi mereka pilihan lain untuk bertahan hidup.
Jika Gereja hanya berteologi tentang pelestarian kosmos tanpa menawarkan solusi ekonomi yang membumi, maka kehadiran Gereja akan terasa jauh dan asing dari realitas kehidupan umatnya.
Jalan Keluar: Menumbuhkan Ekonomi Alternatif
Oleh sebab itu, Gereja lokal mendesak untuk segera menginisiasi pendekatan pastoral yang lebih dialogis dan inklusif. Gereja harus memosisikan diri sebagai ruang perjumpaan yang netral, adil, dan tepercaya bagi masyarakat adat, pemerintah, dan pihak korporasi. Dialog ini krusial agar pembangunan tidak mengorbankan kohesi sosial dan meretakkan tali persaudaraan rahim (pari) masyarakat Manggarai.
Selain itu, Gereja perlu melangkah melampaui retorika dengan menghadirkan pendidikan ekologis praktis yang menyentuh keseharian umat.
Langkah konkretnya adalah memelopori dan mendukung model pembangunan ekonomi alternatif yang berkelanjutan. Tanah Manggarai dianugerahi potensi agraris, kultural, dan pariwisata berbasis komunitas yang luar biasa.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










