RUTENG, FLORESPOS.net-Sebanyak 94 sarjana baru Pendidikan Keagamaan Katolik (PKK) Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) Santo Sirilus Ruteng di Kabupayen Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) berjanji mendarmabaktikan ilmu dan keterampilan yang telah peroleh di Bidang Kateketik Pastoral untuk mengembangkan dan memajukan masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Janji ini disampaikan 94 sarjana baru itu usai mereka dikukuhkan menjadi sarjana dalam acara wisuda sarjana Angkatan XVIII dan XIX Stipas St. Sirilus Ruteng di Aula Paroki Cewonikit Ruteng pada Sabtu (31/10/2026).
Janji ini disampaikan di hadapan Ketua STIPAS St. Sirilus Ruteng Dr. Rikardus Moses Jehaut, S.Fil, M.Th dan senat para dosen. Dan disaksikan Bupati Kabupaten Manggarai Herybertus L.G. Nabit; Kasubdit Pendidikan Tinggi Katolik Direktorat Pendidikan Katolik Ditjen Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI Yuvens Sepur; serta pejabat daerah lainnya.
Lima Janji 94 Sarjana Baru
Pertama, kami lulusan STIPAS St. Sirilus Ruteng akan mendarmabaktikan ilmu dan keterampilan yang telah kami peroleh di Bidang Kateketik Pastoral untuk mengembangkan dan memajukan masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Kedua, kami dengan semangat pastoral St. Sirilus akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya sebagai tenaga Pendidik Pendidikan Keagamaan Katolik di mana pun kami berada dengan mengembangkan nilai-nilai kerajaan Allah, dan setia kepada ajaran dan prinsip moral Gereja Katolik.
Ketiga, kami dengan bersemangatkan pastoral dasar berusaha menjadi tenaga pendidik pendidikan keagamaan katolik dan menjadi anutan di tempat kerja dan di tengah masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip keilmuan kateketik pastoral.
Keempat, kami tidak akan menggunakan ilmu dan keterampilan yang telah kami peroleh di bidang kateketik pastoral untuk kepentingan pribadi semata-mata dengan mengorbankan orang lain dan masyarakat umum.
Kelima, kami tidak akan menodai nama baik STIPAS St. Sirilus Ruteng melalui pikiran, sikap, dan tindakan kami yang tak beretika di mana pun kami berada.
Demikian janji kami semoga Tuhan menyertai dan meneguhkan janji kami ini, kata para wisudawan-wisudawati.
Orasi Ilmiah
Sebelum dilangsungkan janji wisuda, dibawakan orasi ilmiah oleh Dosen STIPAS St. Sirilus Dr. Fredrikus Djelahu Maigahooaku, S.Fil,M.Pd.
Dr. Edy Djelahu dalam orasi dengan tema “Merajut Harapan di Tengah Ketidakpastian” antara lain mengajak wisudawan untuk selalu bersedia dan berkomitmen berjalan bersama masyarakat.
Wisudawan diharapkan memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
“Para sarjana diharapkan mau dan bersedia dengan komitmen yang kuat untuk berjalan bersama masyarakat merajut harapan hidup dalam kolaborasi yang adaptif dan sinergis dalam bingkai masyarakat 5.0,” kata Dr. Edy Djelahu.
Doktor Edy Djelahu meminta para sarjana untuk menguasai mentalitas dan spiritualitas 5.0 society.
“Anda harus terus belajar membangunnya secara sengaja (by design) yaitu mentalitas humanis, kolaboratif dan adaptif serta spiritualitas 5.0 yaitu harmoni, empati, dan berkelanjutan,” kata Dr. Edy Djelahu.
Dr. Edy Djelahu mengingatkan wisuda bukanlah puncak gunung untuk berpuas diri, melainkan pos pemberangkatan. “Topi ini bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan atap untuk melindungi orang lain yang terbelit masalah.”
“Anda bukan lagi mahasiswa yang bertanya apa yang bisa kampus berikan padaku? Tetapi sarjana yang harus bertanya apa yang bisa saya berikan dan berdampak untuk orang tua, para murid, umat dan masyarakat Manggarai Raya. Gelar S.Pd akan hilang kalau tidak dipakai mengajar, tetapi dampakmu akan hidup kalau dipakai melayani. Selamat wisuda,” kata Dr. Edy Djelahu.
Bawalah Obor Pengetahuan ke Tengah Masyarakat
Direktur Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Katolik A.M. Adiyarto Sumardjono dalam sambutan yang disampaikan Kasubdit Pendidikan Tinggi Katolik Direktorat Pendidikan Katolik Ditjen Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI Yuvensius Sepur, S.Fil, M.Si mengemukakan peristiwa akademik ini menandai lahirnya barisan intelektual pastoral baru yang siap diutus ke tengah realitas global yang kompleks yakni era society 5.0.
Yuvens menggarisbawahi sebuah era disrupsi teknologi yang menuntut penyatuan antara kecerdasan buatan dengan pendekatan peradaban kemanusiaan yang berpusat pada manusia (human-centered approach).
Menghadapi tantangan zaman yang bergerak begitu dinamis ini, lanjut Yuvens maka wisuda kali ini mengusung sebuah visi fundamental yang menjadi kompas perutusan saudara-saudari sekalian yaitu menjadi pribadi beriman, adaptif, dan transformatif.
“Tiga pilar ini merupakan representasi nyata dari penyelenggaraan pendidikan yang berdampak di STIPAS Santo Sirilus Ruteng,” katanya.
Menurutnya, menjadi pribadi yang beriman adalah fondasi utama yang tak tergoyahkan. Keimanan yang teguh pada Kristus menjadi jangkar spiritual agar saudara-saudari tidak terhanyut oleh arus sekularisasi.
Namun iman tersebut tidak boleh pasif. Iman yang sejati di era society 5.0 harus diwujudkan dalam karakter yang adaptif.
“Saudara-saudari dituntut untuk tangkas menguasai teknologi mutakhir, cakap mentransformasikan literasi digital agar dapat menjadi media katekese yang relevan serta adaptif terhadap potensi lokal seperti pengembangan ecoteologi di tanah Manggarai dalam rangka mendukung kemandirian ekonomi dan kewirausahaan berbasis umat,” katanya.
Melalui perpaduan iman yang kokoh dan kemampuan adaptasi yang tinggi itulah, lanjut Yuvens, “saudara-saudari akan menjadi agen yang transformatif-pribadi yang membawa perubahan nyata, memperbaharui wajah pastoral, membawa solusi bagi persoalan sosial dan mampu mendampingi iman Generasi Z serta Alpha dengan Bahasa Kemanusiaan yang menyentuh hati.”
Yuvens meminta para wisudawan-wisudawati untuk menjaga nama baik almamater dan menghormati perjuangan orang tua serta para dosen melalui pelayanan yang tulus di tengah umat.
“Pergilah ke tengah masyarakat dengan keyakinan penuh. Jadilah guru pendidikan agama katolik dan penyuluh pastoral yang beriman mendalam, adaptif terhadap perubahan zaman dan transformatif bagi kehidupan sesama. Bawalah obor pengetahuan di satu tangan dan genggam erat salib perutusan suci di tangan yang lain, pinta Yuvens.
Beriman, Adaptif dan Transformatif
Sementara Ketua Yayasan Santo Paulus Ruteng dalam sambutan yang dibacakan RD. Rikardus Hardin antara lain meminta para wisudawan untuk memperhatikan tiga panggilan utama.
Pertama, tetaplah BERIMAN.
Iman adalah akar segala sesuatu. Di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan zaman, jangan pernah melepaskan jangkar iman Anda kepada Kristus. Yesus sendiri bersabda, Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya (Yoh 15:5).
Tanpa tinggal dalam Dia, kita tidak dapat berbuah. Jadikan Ekaristi, doa, dan Sabda Tuhan sebagai sumber kekuatan.
Jadilah pribadi yang berakar dalam Kristus, sehingga di tengah dunia yang serba cepat dan sering kali kehilangan arah, Anda tetap menjadi saksi harapan.
Kedua, jadilah ADAPTIF.
Dunia terus berubah dengan sangat cepat. Kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, terbuka terhadap hal-hal baru, dan tetap relevan adalah kebutuhan zaman. Namun, adaptasi yang sejati bukan berarti menyesuaikan diri tanpa sikap kritis. Adaptasi yang dijiwai iman berarti kemampuan untuk tetap setia pada nilai-nilai Injil sambil merespons tantangan zaman dengan bijak dan kreatif.
Seperti Santo Paulus yang menjadi segala-galanya bagi semua orang (1Kor 9:22), kita dipanggil untuk hadir secara relevan tanpa kehilangan jati diri sebagai murid Kristus.
Ketiga, menjadi TRANSFORMATIF.
Pendidikan yang berdampak adalah pendidikan yang mengubah hidup. Jangan puas hanya menjadi lulusan yang baik. Jadilah agen perubahan yang membawa wajah Kristus ke tengah masyarakat.
Gunakan ilmu, keterampilan pastoral, dan kepekaan sosial yang Anda miliki untuk memberdayakan umat, membela yang lemah, dan membangun komunitas yang lebih adil dan bersaudara. Transformasi sejati lahir dari perjumpaan dengan Kristus yang bangkit. Hanya dari Dia kita dapat membawa perubahan yang menyelamatkan.
Ketua Yayasan Santo Paulus menggarisbawahi bahwa tema Beriman, Adaptif, dan Transformatif bukan sekadar slogan, melainkan undangan untuk bertindak nyata.
Menurutnya, di era Society 5.0 ini, Gereja dan masyarakat membutuhkan kehadiran Anda yang aktif dan berani.
Sebagai pribadi yang beriman, jadilah saksi Kristus di tengah arus informasi yang sering membingungkan. Gunakan media digital dan teknologi bukan untuk mencari popularitas, melainkan untuk mewartakan Kabar Baik, menguatkan yang lemah, dan menjaga nilai-nilai Injil.
Sebagai pribadi yang adaptif, jangan takut mempelajari hal-hal baru. Manfaatkan teknologi untuk pelayanan pastoral yang lebih efektif: katekese digital, pendampingan keluarga secara daring, dan pelayanan kepada kaum muda yang hidup di dunia maya. Namun, tetaplah bijaksana agar teknologi tidak menggeser perjumpaan pribadi yang otentik. Sebagai pribadi yang transformatif, jangan hanya menjadi penonton zaman.
Ambillah peran aktif dalam membangun komunitas basis, membela martabat manusia, peduli terhadap lingkungan, dan menjadi suara bagi mereka yang terpinggirkan. Jadilah gembala yang tidak hanya berbicara, tetapi hadir, mendengarkan, dan bertindak.
Yayasan sangat berharap agar para alumni STIPAS Santo Sirilus Ruteng senantiasa menjadi duta-duta kasih dan kebenaran. Baik di paroki, lembaga pendidikan, organisasi sosial, maupun di tengah masyarakat umum, semoga Anda selalu membawa semangat beriman, adaptif, dan transformatif yang bersumber dari Kristus sendiri.
Jadilah Katekis yang Baik
Sementara Bupati Kabupaten Manggarai Herybertus L.G. Nabit dalam sambutannya antara lain meminta para sarjana pendidikan agama Katolik STIPAS Ruteng untuk tetap menjadi katekis yang baik dan selalu berguru pada Guru Ilahi Yesus Kristus.
“Saya minta para katekis dan guru agama Katolik alumni STIPAS untuk tetap menjadi katekis yang baik dan selalu berguru pada Guru Ilahi Yesus Kristus,” pinta Bupati.
Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Agama RI yang sangat peduli terhadap STIPAS St. Sirilus Ruteng melalui pemberian beasiswa kepada sebagian besar mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng selama ini.
11 Lulusan Cum Laude
Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Keagamaan Katolik ((PKK) STIPAS St. Sirilus Ruteng Emanuel Haru, S.Fil, M.Si membacakan surat keputusan penetapan kelulusan ujian penilaian pembelajaran akhir (PPA) Ketua Stipas St Sirilus Ruteng untuk angkatan XVIII dan angkatan XIX.
Dari 94 mahasiswa yang lulus PPAm ada 11 meraih lulusan cum laude atau dengan pujian.
Kesebelas sarjana lulusan pujian itu adalah tahun akademik 2024/2025 ada 8 orang yakni Fransiska Kurnia dengan IPK 3,78; Maria N. Dagur 3,69; Oliva Yastri Jelita 3,66; Silviani Dede 3,66; Stefanus Charles Tarung 3,65; Rivandus Senang 3,61; Putriani Sulastri Bahagia 3,60; dan Yasinta Yulita Jaiman 3,57.
Sementara untuk Tahun Akademik 2025/2026, ada lulusan dengan pujian yakni Elisabeth Jeniha Rame meraih IPK 3,69; Imelda Asmawati meraih IPK 3, 65; dan Marselina Muliati meraih IPK 3,57.
Terima Kasih
Wakil Wisudawan-wisudawati Fransiska Kurnia, S.Pd dalam sambutan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung para wisudawan sehingga mereka berhasil diwisuda.
“Saya mewakili para wisudawan-wisudawati menyampaikan terima kasih kepada para dosen, tenaga kependidikan, atas ilmu, keteladanan, kesabaran,ketulusan dan pendampingan yang telah membentuk kami. Setiap ilmu yang diberikan, setiap nasihat yang disampaikan telah menjadi lentera yang menuntun langkah kami dalam meniti masa depan,” kata Fransiska.
Fransiska mengakui gerbang wisuda menjadi momen pengingat bahwa di balik setiap prestasi terdapat cucuran keringat seorang ayah yang tak letihnya berjuang serta jerit tangis seorang ibu yang telah melahirkan, melangitkan ribuan doa dan harapan bagi kita.
“Ada pengorbanan yang mungkin tidak pernah kita lihat. Ada dukunga yang mungkin yang mungkin tidak selalu kita lihat. Ada dukungan yang mungkin tidak selalu kita sadari. Kepada semua teman, ingat, sebelum tangan ini terampil ,ada tangan lain yang lebih dulu bekerja yaitu tangan ayah dan ibu. Karena itu, kepada orang tua dan keluarga, kami menyampaikan terima kasih. Terima kasih karena telah percaya kepada kami ketika perjalanan terasa sulit,” kata Fransiska.
Hadir dalam rangkaian wisuda ini Bupati Kabupaten Manggarai Herybertus L.G. Nabit; Kasubdit Pendidikan Tinggi Katolik Direktorat Pendidikan Katolik Ditjen Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI Yuvensius Sepur, S.Fil, M.Si.
Kakan Kemenag Kabupaten Manggarai Ponsius Mudin,S.Fil; Kakan Kemenag Kabupaten Manggarai Timur Anselmus Panggabean, S.Ag; Kakan Kemenag Manggarai Barat, Vikjen Keuskupan Ruteng RP. Sebastian Habahana, SVD; Mantan Vikjen RD. Alfons Segar, RP. Kristian, SVD dan sejumlah pejabat serta utusan lembaga. *
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando










