Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
DI UJUNG timur Flores, di mana angin laut berbisik lembut menyapa pepohonan Witihama, lahir seorang anak pada 9 Agustus 1987. Ia bernama Romanus Tubo Ola, atau yang akrab disapa Tubo.
Dari rahim ibu, Katarina Mala Luli, dan didikan tangan ayah, Mikhael Ola Masan, Tubo tumbuh di tengah kehangatan iman yang sederhana namun mengakar kuat. Keluarga inilah ladang pertama di mana benih-benih kasih Allah mulai disemai, merawatnya dengan doa-doa malam dan kerja keras yang tak pernah putus.
Langkah awal pendidikannya menapak di tanah kelahirannya. Di TKK St. Stefanus Horinara dan SDK St. Yosep Horinara, Tubo kecil belajar mengeja huruf sekaligus mengeja iman.
Masa remajanya membawanya merantau ke Larantuka, mengenyam pendidikan di SMPK St. Gabriel. Namun, bisikan halus dari Sang Pencipta telah mulai terdengar jelas, menuntunnya memasuki gerbang Seminari Menengah San Dominggo Hokeng pada tahun 2003.
Di sanalah, selama empat tahun, ia ditempa dalam kedisiplinan, persaudaraan, dan kecintaan pada altar. Akan tetapi, jalan panggilan Tuhan jarang sekali bergerak dalam garis yang lurus dan dapat ditebak.
Setelah menamatkan pendidikan menengahnya, Tubo mengambil sebuah langkah yang mungkin bagi banyak orang tampak sebagai sebuah persimpangan. Ia melanglang ke Jakarta, menyelami dunia kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.
Selama lima tahun, dari 2009 hingga 2014, ia belajar memahami rapuhnya tubuh manusia, merangkai resep untuk menyembuhkan luka, dan memegang stetoskop sebagai alat untuk mendengarkan detak kehidupan. Ia belajar menjadi penyembuh bagi raga yang sakit.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










