Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Rekayasa Benih
Oleh : Anselmus Kaki Reku
KETAHANAN pangan tidak cukup diukur dari banyaknya hasil panen. Ketahanan pangan juga ditentukan oleh kemampuan petani menjaga benih, merawat kesuburan tanah, mempertahankan keragaman pangan, dan mewariskan kemandirian kepada generasi berikutnya.
Benih Lokal, Warisan dan Sumber Kehidupan
Di Flores, khususnya Kabupaten Ende, benih pangan lokal seperti jagung, padi, sorgum, kacang-kacangan, dan umbi-umbian merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Di dalamnya tersimpan pengetahuan leluhur, identitas budaya, serta pengalaman petani dalam mengelola tanah dan menghadapi perubahan lingkungan.
Namun, perubahan pola pertanian dan konsumsi membuat sebagian benih lokal mulai ditinggalkan. Ketergantungan pada jenis tanaman dan benih tertentu juga berpotensi mempersempit keragaman pangan masyarakat.
Persoalannya bukan sekadar memilih benih lama atau benih baru. Hal yang lebih penting ialah memastikan petani tetap memiliki kebebasan memilih benih, menguasai sumber pangan, dan membangun sistem pertanian yang mampu menghadapi perubahan iklim serta ketidakpastian ekonomi.
Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) pernah mengemukakan estimasi historis bahwa sekitar 75 persen keragaman genetik tanaman pangan telah hilang sejak awal abad ke-20.
FAO juga mencatat bahwa padi, jagung, dan gandum menyumbang hampir 60 persen kalori dan protein yang diperoleh manusia dari tumbuhan.
Data tersebut mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keanekaragaman tanaman pangan.
Editor : Willy Aran
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










