Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern - FloresPos Net - Page 2

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

- Jurnalis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap varietas lokal dapat memiliki karakteristik berbeda, mulai dari rasa, umur panen, hingga kemampuan beradaptasi dengan kondisi setempat. Jika varietas tersebut hilang, kita berisiko kehilangan sumber daya genetik yang mungkin berguna bagi pertanian masa depan.

“Benih Lokal dan Teknologi Modern”

Benih lokal, benih hasil pemuliaan konvensional, dan benih produk rekayasa genetika perlu dipahami secara tepat. Benih hasil pemuliaan konvensional dikembangkan melalui seleksi dan persilangan, sedangkan rekayasa genetika menggunakan teknik bioteknologi modern untuk mengubah materi genetik tanaman.

Baca Juga :  Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Karena itu, tidak semua benih baru merupakan hasil rekayasa genetika. Sebaliknya, benih lokal juga tidak otomatis unggul dalam setiap kondisi. Penggunaannya perlu mempertimbangkan karakteristik tanaman, kondisi lahan, kebutuhan petani, dan hasil pengamatan.

Pengalaman dan pengetahuan setiap wilayah dapat dipertukarkan agar keragaman pangan menjadi kekuatan bersama bagi ketahanan pangan Kabupaten Ende.

Gerakan Nyata diperlukan
Agar pelestarian benih lokal tidak berhenti pada seremoni, beberapa langkah perlu diperkuat.

Pertama, membangun lumbung pangan. Sejarah pertanian di Flores bahkan di Ende secara khususunya telah memperlihatkan model penyimpan benih pada lumbung dimasing masing kebun sejak jaman dahulu, diberbagai tempat di Kabupaten Ende sebut saja di Desa Rutujeja, Kecamatan Lepembisi Kelisoke, masih terkihat ratusan lumbung petani di kampung yang berdampingan dengan rumah tempat tinggal petani.

Baca Juga :  Perdagangan Manusia dan Akuntabilitas Politik

Fungsi lumbung selain sebagai tempan menyimpan benih juga menyimpan bahan makanan hasil panen yang sangat aman, seblum dipindahkan kedapur untuk dikomsumsi.

Editor : Willy Aran

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA