Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern - FloresPos Net - Page 3

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

- Jurnalis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah seperti ini dianggap sangat strategis dalam upaya menjaga ketahanan pangan pada musim tertentu seprti musim paceklik atau bencana alam. Secara fisik lumbung menyerupai bangunan rumah sederhana yang memiliki fungsi tinggal sebagai tempat penyimpanan benih.

Kedua, mendata jenis tanaman pangan, varietas yang mulai langka, kalender tanam, dan pemanfaatannya di setiap desa.

Pendataan terhadap jenis pangan mesti harus dilakukan sebagai bagian dari dokumentasi serta pengakuan kepemilikan benih pada suatu daerah, suku melalui pemerintahan desa. Langkah ini dinilai sangat efektif agar masyarakat disuatu desa atau suku tidak kehilangan warulisan benih yang ada sejak jaman dahulu.

Baca Juga :  Memaknai Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi, Jurnalisme Terlibat dan Voice of the Voiceless

Ketiga, memperkuat pendidikan pertanian organik dan mengevaluasi hasil budidaya secara terbuka. Langkah tersebut tidak sekadar dilakukan pada pendidikan formal semata, penting dilakukan pada tingkatan pendidikan informal dan melibatkan NGO serta kelompok sosial lainnya yang memiliki kesaman tujuan, sehingga pemahaman terkait masa depan benih lokal dan ketahanan pangan dapat terdistribusi secara merata kepada setiap lapisan masyarakat.

Keempat, memperluas pertukaran benih dan pengetahuan antardesa. Mendokumentasikan, dan membagikan benih lokal. Langkah ini sebagai bentuk edukasi dan solidaritas bersama antar petani melalui sistem barter benih dari petani diantara daerah, atau desa berbeda, sehingga tidak terjadi kehilangan dan kesenjangan benih dalam varitas tertentu di suatu masa.

Baca Juga :  Memulihkan Wajah Manusia

Selain itu perlu dilakukan gerakan literasi mellaui lembaga pendidikan, sehingga dapat menanamkan ideologi terkait pentingnya keberkanjutan dan keberagaman pangan untuk para generasi penerus.

Kelima, membangun kerja sama antara petani, pemerintah, penyuluh, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil untuk melindungi varietas lokal serta memperluas pasar pangan lokal.

Editor : Willy Aran

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA