Oleh: Rahmawaty
Perekonomian Kabupaten Ende tidak dapat dilepaskan dari peran sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini bukan hanya menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian daerah, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Karena itu, penguatan sektor pertanian memiliki arti penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Ende.
Pada Triwulan II 2026, perekonomian Kabupaten Ende tumbuh sebesar 7,60 persen setelah mengalami kontraksi 5,65 persen pada Triwulan I 2026. Secara tahunan, perekonomian Ende pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,80 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,81 persen.
Di tengah dinamika tersebut, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penopang utama perekonomian daerah. Pada Triwulan II 2026, sektor ini memberikan kontribusi sebesar 31,84 persen terhadap perekonomian Kabupaten Ende. Artinya, hampir sepertiga aktivitas ekonomi daerah berasal dari sektor tersebut. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan dengan kontribusi 17,12 persen, disusul administrasi pemerintahan sebesar 9,30 persen.
Namun, besarnya kontribusi belum sepenuhnya diikuti oleh pertumbuhan yang optimal. Pada Triwulan II 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh sebesar 1,04 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sektor perdagangan yang mencapai 7,51 persen dan administrasi pemerintahan sebesar 6,44 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan sektor pertanian merupakan salah satu peluang penting untuk mendorong perekonomian Kabupaten Ende. Dengan kontribusi yang besar, peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha pertanian berpotensi memberikan manfaat yang luas bagi perekonomian daerah.
Potret Pertanian Kabupaten Ende
Peran strategis pertanian juga terlihat dari data tahunan. Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi sebesar 31,76 persen terhadap perekonomian Kabupaten Ende, dengan laju pertumbuhan 6,65 persen. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Sebanyak 35,09 persen tenaga kerja di Kabupaten Ende, atau sekitar 52.760 orang, bekerja di sektor pertanian. Data ini memperlihatkan bahwa pertanian tidak hanya berperan dalam pembentukan nilai ekonomi daerah, tetapi juga berkaitan erat dengan mata pencaharian masyarakat.
Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, terdapat 41.959 rumah tangga usaha pertanian (RTUP) di Kabupaten Ende. Subsektor perkebunan menjadi subsektor yang paling banyak diusahakan, dengan 30.737 rumah tangga. Berikutnya adalah peternakan dengan 27.820 rumah tangga dan tanaman pangan dengan 23.278 rumah tangga. Data tersebut menggambarkan beragamnya aktivitas usaha pertanian yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Ende.
Potensi pertanian Kabupaten Ende juga didukung oleh sumber daya alam dan kelembagaan. Keberadaan mata air dengan debit yang relatif bertahan menjadi salah satu modal penting dalam mendukung kegiatan pertanian. Dari sisi sumber daya manusia, kelembagaan penyuluh memiliki peran dalam membina 2.103 kelompok tani dan 259 gabungan kelompok tani (Gapoktan) pada Februari 2025.
Selain air dan sumber daya manusia, ketersediaan lahan merupakan faktor penting dalam menunjang produksi pertanian. Pada 2025, luas lahan sawah di Kabupaten Ende tercatat sebesar 4.264,4 hektare yang tersebar di 17 kecamatan. Kecamatan Wewaria memiliki lahan sawah terluas, yakni 1.518 hektare, diikuti Kecamatan Maurole seluas 617 hektare dan Kecamatan Detusoko seluas 518 hektare.
Berbagai potensi tersebut menjadi modal bagi pengembangan pertanian. Meski demikian, potensi sumber daya alam dan luas lahan perlu diimbangi dengan pengelolaan yang baik agar mampu menghasilkan produksi yang optimal.
Produktivitas Menjadi Tantangan
Salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah penurunan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi. Produktivitas padi di Kabupaten Ende turun dari 44,29 kuintal per hektare pada tahun 2024 menjadi 43,23 kuintal per hektare pada tahun 2025.
Penurunan ini menjadi perhatian karena produktivitas berkaitan dengan kemampuan lahan menghasilkan produksi. Jika tidak diantisipasi, penurunan produktivitas dapat memengaruhi hasil usaha petani dan membatasi potensi peningkatan kinerja sektor pertanian.
Karena itu, peningkatan produktivitas perlu menjadi bagian penting dari strategi pembangunan pertanian daerah. Pemerintah bersama pemangku kepentingan terkait dapat mendorong penguatan infrastruktur dan pengelolaan usaha tani, antara lain melalui pompanisasi dan perbaikan sistem irigasi untuk mengantisipasi musim kering.
Optimalisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu, serta penerapan kalender tanam yang sesuai dengan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Dinas Pertanian juga perlu diperhatikan. Langkah-langkah tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan air, dan kebutuhan petani di masing-masing wilayah.
Di tingkat usaha tani, produktivitas dapat didukung melalui penggunaan benih bermutu, pemupukan berimbang, pengendalian OPT, serta pendampingan yang berkelanjutan oleh tenaga penyuluh. Dengan demikian, upaya peningkatan produksi tidak hanya bertumpu pada ketersediaan lahan, tetapi juga pada penerapan praktik pertanian yang tepat.
Mendorong Nilai Tambah Hasil Pertanian
Peningkatan produktivitas merupakan langkah penting, tetapi pengembangan pertanian tidak seharusnya berhenti pada peningkatan jumlah produksi. Upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian juga perlu mendapat perhatian agar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat dapat semakin besar.
Hasil pertanian yang diolah menjadi produk bernilai tambah berpotensi memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan jika hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Pengembangan pengolahan hasil pertanian dapat menjadi peluang untuk memperluas kegiatan ekonomi, membuka kesempatan usaha, dan memperkuat hubungan antara sektor pertanian dengan sektor perdagangan serta kegiatan ekonomi lainnya.
Dengan dukungan infrastruktur, pendampingan, teknologi, dan akses pasar yang memadai, potensi pertanian Kabupaten Ende dapat dikembangkan secara lebih optimal. Penguatan sektor ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, penyuluh, kelompok tani, pelaku usaha, dan masyarakat.
Pertanian Kabupaten Ende memiliki modal yang besar untuk terus berkembang. Tantangannya adalah memastikan bahwa potensi sumber daya alam, tenaga kerja, dan kelembagaan yang tersedia dapat diterjemahkan menjadi produktivitas yang lebih baik dan nilai tambah yang lebih tinggi. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor pertanian tidak hanya dapat mempertahankan perannya sebagai penopang utama perekonomian daerah, tetapi juga menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat.*
Penulis Adalah: Statistisi BPS Kabupaten Ende
Penulis : Rahmawaty
Editor : Anton Harus










