BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis - FloresPos Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

SERUAN moral yang bergema dari Bukit Fatima, Larantuka, baru-baru ini menegaskan kembali perlawanan tegas terhadap proyek strategis nasional (PSN) pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores dan Lembata.

Mgr Fransiskus Kopong Kung, Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, dengan lantang menyatakan penolakannya, selaras dengan sikap Uskup Larantuka Mgr Hans Monteiro, puluhan pastor paroki, serta masyarakat adat yang merasa terancam.

Bagi saya, penolakan masyarakat Flores terhadap proyek geothermal sama sekali bukan bentuk ‘anti-pembangunan’ atau ketidaktahuan. Sebaliknya, ini merupakan respons rasional terhadap pola ketidakadilan lingkungan (environmental injustice) yang berulang.

Baca Juga :  Ziarah Harapan Penuh Luka: Seruan Sunyi dari Lingko Lolok

Wacana transisi energi sering kali menjebak kita dalam dikotomi palsu yaitu mendukung geothermal berarti mendukung masa depan, menolaknya berarti menghambat kemajuan. Namun, literatur global menunjukkan bahwa penerimaan sosial (social acceptance) adalah pilar utama keberlanjutan.

Ketika mayoritas warga Flores bergerak menolak, ini adalah sinyal merah bahwa prinsip ‘Free, Prior, and Informed Consent’ (FPIC) telah diabaikan. Penolakan ini merupakan bentuk penolakan terhadap model pembangunan ekstraktif yang merampas ruang hidup, mengabaikan kearifan lokal, dan membebankan risiko lingkungan kepada masyarakat kecil.

Baca Juga :  BENTARA NET: Cahaya yang Menyatukan

Dukungan Mgr Frans Kopong terhadap suara nurani umat dan para pastor paroki menegaskan bahwa kedaulatan lokal harus dihormati, bukan ditabrak oleh keputusan sepihak dari atas.

Pemerintah dan pengembang sering mengklaim geothermal ‘ramah lingkungan’. Namun, tinjauan Life Cycle Assessment (LCA) dan studi di dataran tinggi Tibet (Tiongkok) membuktikan bahwa fluida geothermal kaya akan elemen beracun seperti Arsenik (As), Fluor (F), dan Talium (Tl).

Berita Terkait

BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’
BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah
BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan
BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing
BENTARA NET: Di Balik Status yang Berakhir
BENTARA NET: Menanti Aksi untuk ‘Ruang Suci’
BENTARA NET: Pancawindu Kemanusiaan
BENTARA NET: Tatkala Merah Putih Berkibar
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:03 WITA

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:27 WITA

BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:29 WITA

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 26 September 2026 - 10:59 WITA

BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan

Sabtu, 19 September 2026 - 11:05 WITA

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA