Oleh: Ansel Atasoge
GEMPA berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Pulau Flores pada pertengahan Agustus 2026 meninggalkan kisah yang belum kering.
Bagi masyarakat Flores Timur, salah satu perhatian tertuju pada sebuah bangunan pendidikan di Desa Ojandetung, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Kini, SDK Kokang berdiri dengan dinding yang retak, memancarkan sinyal bahaya yang tidak bisa lagi diabaikan.
Kerusakan pada bangunan ini sangat nyata. Retakan merambat dari bagian fondasi hingga mencapai sloof atas pada dua ruang kelas. Ruang kelas tersebut selama ini menjadi tempat belajar siswa kelas 1 dan kelas 6. Gempa bumi menjadi pemicu awal kerusakan struktural ini.
Namun, kondisi dinding semakin memburuk ketika Gunung Lewotobi mengalami erupsi dan mengeluarkan dentuman keras pada 27 Agustus 2026. Kombinasi guncangan tanah dan gelombang kejut vulkanik menciptakan tekanan ganda pada infrastruktur sekolah yang rapuh.
Rasa takut menghantui aktivitas belajar mengajar di lokasi tersebut. Kepala SDK Kokang, Yohanes Wato Ipir, menyampaikan kekhawatiran yang sangat beralasan. Ia dan para guru merasa tidak aman berada di dalam gedung. Mereka khawatir bangunan itu akan runtuh sewaktu-waktu.
Ketakutan ini akan semakin memuncak jika gempa susulan terjadi atau dentuman letusan gunung terdengar kembali. Anak-anak seharusnya merasa aman di sekolah. Mereka berhak mendapatkan lingkungan belajar yang nyaman, bukan tempat yang dipenuhi kecemasan akan bencana.
Tanggapan dari pemerintah daerah memang telah muncul. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur, Felix Suban Hoda, mengakui adanya retakan parah setelah melakukan pengecekan langsung. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Langkah koordinasi ini patut diapresiasi sebagai awal dari penyelesaian masalah. Akan tetapi, koordinasi saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan aksi nyata yang berkecepatan tinggi.
Penilaian risiko harus segera diterjemahkan menjadi perbaikan fisik atau relokasi sementara. Kita tidak bisa menunggu hingga tragedi menimpa.
Keselamatan siswa dan tenaga pengajar di SDK Kokang tidak boleh lagi ditawar. Ini adalah prioritas absolut yang mendesak.
Bayangkan ketakutan yang menghantui setiap detak jantung anak-anak kelas 1 dan 6 saat mereka duduk di bawah atap yang retak, waswas menunggu guncangan berikutnya.
Kondisi bangunan yang rapuh dan sangat rentan terhadap bencana susulan menuntut keputusan tegas serta tindakan nyata yang tidak bisa ditunda lagi.
Oleh karena itu, pihak sekolah, Dinas PKO, dan tim SPAB harus segera menyatukan langkah untuk menangani kerentanan ini secara konkret dan terukur.
Mari kita bergandengan tangan memastikan bahwa ruang kelas kembali menjadi ‘ruang suci’ untuk menimba ilmu dan merajut mimpi.
Tempat belajar harus berdiri kokoh sebagai benteng perlindungan, bukan menjadi ‘ruang tunggu sunyi’ yang setiap saat mengancam nyawa generasi penerus bangsa. *










