Oleh: Wall Abulat
BENCANA gempa tektonik Flores menjadi perhatian para jurnalis pelbagai media mainstream nasional dan dunia, baik media cetak, media eletronik, maupun media online yang berbadan hukum.
Salah satu bentuk perhatian para jurnalis terlihat dari kebijakan redaksi yang menempatkan bencana tektonik Flores sebagai berita utama (headline) dalam pemberitaan beberapa pekan terakhir.
Dengan kemajuan teknologi di zaman digital saat ini semakin memudahkan akses informasi terkait bencana gempa tektonik Flores.
Di era kemudahan seperti ini, terkadang bahkan selalu ada media-media tertentu yang memberikan porsi berita, meski secara fisik, jurnalis mereka tak hadir di lokasi bencana di Flores.
Selain kemudahan teknologi, akses informasi di era saat ini juga dimungkinkan karena instansi berwewenang seperti Basarnas, BNPB atau institusi berwewenang lainnya selalu mengupdate perkembangan kejadian bencana atau dibuat rilisnya untuk dibagikan kepada para insan jurnalis atau grup para awak media.
Terlepas dari aneka kemudahan di atas, dan adanya otoritas berwewenang selalu mengupdate perkembangan kebencanaan, mesti harus dipahami bahwa salah satu misi jurnalis era kini adalah apa yang disebut sebagai panggilan profesi jurnalisme terlibat. Eksistensi jurnalisme terlibat kiranya semakin memotivasi kita untuk memaknai konsep pers sebagai pilar keempat demokrasi.
Tulisan sederhana ini coba membedah tiga hal yakni solidaritas kemanusiaan gempa tektonik Flores, jurnalisme terlibat, dan pers sebagai pilar keempat demokrasi.










