‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’ - FloresPos Net

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Sebuah Opini untuk Kemanusiaan yang Tak Boleh Runtuh)

Oleh: Suru Oktaviano

GEMPA tidak pernah mengetuk pintu. Ia datang seperti bisik bumi yang marah, lalu berteriak. Detik saja. Tapi sedetik itu cukup untuk merobohkan tembok yang dibangun 20 tahun. Cukup untuk membuat piring warisan pecah, foto keluarga retak, dan tidur Mama Imelda Wea tercerai-berai.

Malam itu, Mama Imelda tidak sempat bertanya “kenapa”. Yang beliau lakukan hanya satu: berlari. Menggandeng cucunya, menutup kepala dengan kedua tangan, dan berdoa dalam lari. Saat debu turun, rumah sudah bukan rumah lagi. Ia menjadi tumpukan pertanyaan yang belum terjawab.

Baca Juga :  Korupsi dalam Pemerintahan Lokal: Mengapa Ini Terus Terjadi?

Pagi setelahnya, matahari masuk dari lubang di atap. Tidak ada lagi pintu yang bisa ditutup. Tidak ada lagi dapur yang bisa mengepul. Yang ada hanya kursi plastik miring, selimut berdebu, dan jejak kaki di atas puing.

Mama Imelda duduk di teras yang kini tanpa atap. Tangannya memungut pecahan gelas satu-satu. Seolah kalau gelasnya utuh kembali, hidupnya juga bisa. “Ini tempat saya menanak nasi,” katanya pelan. “Ini tempat saya menidurkan anak.”

Baca Juga :  Menghidupkan Kembali Kemanusiaan

Rumah tidak hanya roboh. Rumah menangis. Dan yang mendengarnya hanya angin. Hari pertama, orang datang. Bawa sembako, bawa tenda, bawa kamera. Hari kedua, masih ada yang bertanya kabar. Hari ketiga… sepi.

Kita memang begitu. Ramai saat bencana, lalu sibuk dengan hidup kita sendiri. Tagar tenggelam. Berita berganti. Bantuan menipis.

Tapi Mama Imelda masih di situ. Dengan nasi bungkus yang harus dibagi tiga hari. Dengan malam yang dingin karena seng sudah tidak ada. Dengan takut yang datang tiap kali tanah sedikit bergetar.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Berita ini 86 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 18:35 WITA

Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Minggu, 13 September 2026 - 17:01 WITA

Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten

Sabtu, 12 September 2026 - 12:58 WITA

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA