Oleh: P. Hendrik Maku, SVD
SIDANG Pleno XII Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia atau FABC yang diselenggarakan di Jakarta dan ditutup pada Minggu 26 Juli 2026.
Di bawah tema,”You Will See Greater Things: The Call to Synodal Conversion and the Mission of Bridge-Building in Asia”, ke-120 Uskup dan Kardinal dari seluruh Asia melaksanakan rekoleksi, diskusi, debat, serta saling berbagi kisah/pengalaman tentang perjalanan gereja lokal di masing-masing negara untuk menginspirasi satu sama lain.
Beberapa ahli pun diundang untuk memberikan perspektif mengenai situasi dan kondisi global terkini.
Seruan Pertobatan Hati
Para peserta sidang pleno FABC, setelah merefleksikan secara matang fenomena perubahan lanskap geopolitik, sosial, ekonomi, dan misi Gereja Katolik dalam konteks hari ini, bersepakat untuk menyerukan kepada dunia akan pentingnya “pertobatan hati”.
Dalam perspektif Gereja Katolik,“pertobatan hati” (conversio cordis) adalah perubahan batin yang mendalam, yakni kembalinya seluruh diri manusia kepada Allah, penolakan terhadap dosa, serta tekad untuk menghayati pola hidup baru menurut kehendak-Nya.
Pertobatan bukan pertama-tama soal tindakan lahiriah, melainkan pembaruan hati yang kemudian tampak dalam perbuatan nyata. Pertobatan hati disertai kesedihan rohani karena telah melukai kasih Allah.
Dalam tradisi Gereja, ini disebut compunctio cordis (penyesalan hati). Pertobatan tidak berhenti pada rasa sesal, tetapi mencakup keputusan konkret untuk meninggalkan dosa dan hidup sesuai titah Injil, dengan mengandalkan rahmat Allah.
Gereja mengajarkan, pertobatan pertama-tama adalah karya rahmat Allah yang menyentuh dan mengubah hati manusia. Manusia menanggapi rahmat itu dengan kebebasan dan iman.
Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1430-1432 menegaskan: “Yesus menyerukan pertobatan dan penitensi … bukan pertama-tama kepada perbuatan lahiriah …, melainkan kepada pertobatan hati, pertobatan batin. Pertobatan batin adalah pembalikan radikal seluruh hidup kita, kembali kepada Allah dengan segenap hati, mengakhiri dosa, berpaling dari kejahatan, disertai keinginan dan keputusan untuk mengubah hidup…”
FABC Bukan Produser Dokumen
Sekretaris Eksekutif Komisi Sinodalitas FABC Clarence Devadass, menegaskan, pertobatan hati yang menjadi roh sinodalitas mengajak Gereja di Asia untuk tidak sekadar menghasilkan dokumen atau rumusan formal, melainkan membangun pembaruan cara berpikir dan cara hidup yang semakin berakar pada semangat persekutuan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










