Oleh: Anselmus DW Atasoge
DI SEBUAH jalan berdebu menuju Kampung Muliama, Distrik Muliama, Jayawijaya, Rabu sore itu (9/9/2026), tiga pasang mata masih menatap horizon dengan harapan yang sama.
Menuntaskan tugas, pulang dengan selamat, dan kembali ke meja kerja esok hari. Namun, harapan itu kandas oleh deretan peluru yang tak mengenal wajah, tak mengenal nama, tak mengenal hati.
Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Willi Mbuik. Tiga nama yang akan tertulis di batu nisan. Tidak lagi di absensi dinas. Mereka bukan prajurit. Mereka bukan polisi. Mereka hanyalah tiga aparatur sipil negara yang membawa bibit ternak dan bantuan pangan untuk masyarakat pedalaman.
Namun, pada sore itu, kelompok bersenjata memilih memisahkan mereka dari rekan-rekan asli Papua, lalu menjadikan mereka sasaran tembak. Delapan warga lokal dilepaskan. Tiga orang perantau diberangus.
Di situlah letak kisah pilu yang tak kasat mata. Lebih dari luka tembak di perut Aprida, di kepala Alfonsius, atau di pinggang Willi. Luka baru yang tak lekang oleh ingatan akan menganga lebih dalam yakni pada cara manusia lain memandang manusia lain. Pada garis imajiner yang memisahkan ‘kita’ dan ‘mereka’, ‘pribumi’ dan ‘pendatang’, ‘yang berhak hidup’ dan ‘yang layak mati’.
Sebelum peluru itu meletus, Alfonsius (dokter hewan asal Maumere yang baru berusia 35 tahun) sempat mengangkat teleponnya. Ia tidak berbicara tentang dirinya. Ia bertanya pada kakaknya, Henderikus Evenitus, tentang korban gempa di Flores. “Bagaimana mereka? Apakah bantuan sudah sampai?” tanyanya, seolah luka orang lain di Nusantara lebih penting daripada napasnya sendiri di tanah rantau.
Beberapa jam kemudian, ia menghembuskan napas terakhir dengan timah panas di belakang kepalanya. Pertanyaan itu pun menjadi pertanyaan yang tak terjawab. Sebuah warisan nurani yang kini harus kita jawab bersama.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










