Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem - FloresPos Net

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

DI SEBUAH jalan berdebu menuju Kampung Muliama, Distrik Muliama, Jayawijaya, Rabu sore itu (9/9/2026), tiga pasang mata masih menatap horizon dengan harapan yang sama.

Menuntaskan tugas, pulang dengan selamat, dan kembali ke meja kerja esok hari. Namun, harapan itu kandas oleh deretan peluru yang tak mengenal wajah, tak mengenal nama, tak mengenal hati.

Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Willi Mbuik. Tiga nama yang akan tertulis di batu nisan. Tidak lagi di absensi dinas. Mereka bukan prajurit. Mereka bukan polisi. Mereka hanyalah tiga aparatur sipil negara yang membawa bibit ternak dan bantuan pangan untuk masyarakat pedalaman.

Baca Juga :  Ikhtiar Menjaga Jiwa dan Merawat Semesta (Sebuah Sisipan Refleksi Filosofis-Pastoral Dies Natalis ke-35 Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)

Namun, pada sore itu, kelompok bersenjata memilih memisahkan mereka dari rekan-rekan asli Papua, lalu menjadikan mereka sasaran tembak. Delapan warga lokal dilepaskan. Tiga orang perantau diberangus.

Di situlah letak kisah pilu yang tak kasat mata. Lebih dari luka tembak di perut Aprida, di kepala Alfonsius, atau di pinggang Willi. Luka baru yang tak lekang oleh ingatan akan menganga lebih dalam yakni pada cara manusia lain memandang manusia lain. Pada garis imajiner yang memisahkan ‘kita’ dan ‘mereka’, ‘pribumi’ dan ‘pendatang’, ‘yang berhak hidup’ dan ‘yang layak mati’.

Baca Juga :  Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Sebelum peluru itu meletus, Alfonsius (dokter hewan asal Maumere yang baru berusia 35 tahun) sempat mengangkat teleponnya. Ia tidak berbicara tentang dirinya. Ia bertanya pada kakaknya, Henderikus Evenitus, tentang korban gempa di Flores. “Bagaimana mereka? Apakah bantuan sudah sampai?” tanyanya, seolah luka orang lain di Nusantara lebih penting daripada napasnya sendiri di tanah rantau.

Beberapa jam kemudian, ia menghembuskan napas terakhir dengan timah panas di belakang kepalanya. Pertanyaan itu pun menjadi pertanyaan yang tak terjawab. Sebuah warisan nurani yang kini harus kita jawab bersama.

Berita Terkait

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA