Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
DI BAWAH langit Larantuka yang menyimpan ribuan lapis memori, panggung Taman Kota Felix Fernandez kembali berdenyut oleh napas seni dan sejarah. Komunitas Teater Seminari San Dominggo Hokeng hadir menyulut nyala pertunjukan dalam Festival Bale Nagi 2026. Mereka seakan menegaskan bahwa teater di tanah ini tidak pernah berhenti menjadi ruang perjumpaan antara tubuh, suara, dan derita yang terpendam.
Dari tangan kreatif Romo Ino Koten, lahirlah ‘Yang Runtuh Lalu Satu’, sebuah karya yang membongkar konstruksi sosial atas ruang, mengaduk endapan memori kolektif, dan menelanjangi patologi konflik yang telah menggerogoti relasi antarmanusia melintasi generasi. Di atas panggung itu, setiap gerak dan diam menjelma pertanyaan besar. Adakah ‘reruntuhan’ yang kita warisi masih bisa disatukan kembali?
Narasi yang dibangun dalam pertunjukan ini berakar pada realitas historis di mana manusia terus mereproduksi cerita mengenai batas teritorial, klaim leluhur, dan legitimasi kebenaran. Fenomena ini secara berangsur bertransformasi menjadi sentimen primordial, prasangka, hingga eskalasi konflik yang seolah tak berkesudahan.
Dalam dialektika sejarah, terdapat kecenderungan masyarakat mengalami distorsi kognitif. Mereka gagal membedakan antara kearifan leluhur dengan ‘residual dendam’ yang terinstitusionalisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di atas panggung, semiotika ruang bermetamorfosis melalui harmoni ekspresi somatik dan resonansi musik yang menggetarkan kesadaran. Di tengah pusaran artistik itu, ‘sapu lidi’ tampil sebagai artefak filosofis yang merefleksikan agregasi elemen-elemen renik. Ketika terikat dalam kesatuan, ia memancarkan kekuatan strategis. Namun saat ego sektorial merenggut simpulnya, ia menyisakan metafora yang menyayat tentang rapuhnya tenunan sosial di tengah manusia.
Melalui orkestrasi simbolik ini, penonton diajak menyelami sebuah penelusuran epistemologis atas labirin identitas dan friksi antarkelompok. Setiap gerak dan diam di panggung mengupas lapis demi lapis realitas konflik, membawa hadirnya sebuah kesadaran kultural yang utuh. Bahwa di ujung segala pencarian dan pertikaian, terdapat sebuah ‘terang kebenaran’ yang menanti untuk direngkuh bersama.
Pada puncaknya, pertunjukan ini mengartikulasikan sebuah tesis filosofis yang membantah determinisme teritorial. Tanah, dalam pemahaman ontologisnya, tidak pernah menagih pertumpahan darah sebagai syarat kesuburan maupun persembahan ritual. Bumi sesungguhnya merentang sebagai rahim yang menampung segala kehidupan, menuntut kesadaran bahwa batas-batas geografis tidak seharusnya dibasahi oleh ambisi yang mengorbankan esensi kemanusiaan.
Kesadaran kolektif ini kemudian bermanifestasi dalam resolusi simbolis, terekam apik melalui adegan rekonsiliasi di mana faksi-faksi yang bertikai akhirnya saling merangkul. Gestur pelukan tersebut melampaui ekspresi fisik. Ia merepresentasikan pergeseran paradigma dari kultus kebencian menuju keberanian memutus rantai trauma masa silam.
Momen katarsis ini menjadi katalisator bagi reorientasi nilai-nilai bersama, mengarusutamakan perdamaian sebagai satu-satunya jalan untuk ‘merawat tanah’ yang selama ini disalahpahami.
Kehadiran ‘Yang Runtuh Lalu Satu’ di Festival Bale Nagi 2026 sejatinya menegaskan posisi seni teater yang melampaui batas estetika pertunjukan, serta bertransformasi menjadi instrumen sosiokultural untuk membongkar narasi konflik yang mengakar.
Bagi saya, pementasan ini menggarisbawahi urgensi pembebasan manusia dari belenggu prasangka, demi mewujudkan koeksistensi yang harmonis di atas tanah yang sama. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende









