Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
DI BALIK keindahan alam Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tersimpan kisah-kisah pilu yang melahirkan duka yang mendalam.
Selama lima tahun terakhir, tepatnya dari 2021 hingga 2026, wilayah ini mencatat sejumlah kasus bunuh diri yang merenggut nyawa warga dari berbagai kalangan usia.
Tragedi ini menuntut kita untuk menatapnya lebih dari angka statistik belaka. Kita perlu melihatnya sebagai ‘lukisan’ tentang retaknya struktur sosial dan hilangnya ruang aman bagi sesama manusia.
Catatan media dan laporan-laporan pihak yang berwewenang mengungkap kronologi yang memilukan yang terjadi di Tanah Lamaholot Flores Timur.
Pada Februari 2026, seorang siswi SMA berusia 17 tahun di Kecamatan Witihama, Adonara, ditemukan tewas gantung diri di kamar tidurnya.
Keluarga mencatat adanya perubahan drastis pada diri korban. Ia menjadi pendiam. Ia menarik diri dari pergaulan. Ia memendam beban sendirian tanpa sempat bercerita.
Tragedi yang paling memilukan mungkin terpatri pada nasib seorang siswi SMP kelas IX di Solor Selatan pada Januari 2022.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










