Tenang-tenang mendayung di dalam ombak
Tenang-tenang merenung di tengah taufan hidup yang ramai
— Madah Bakti No. 221
Oleh: Sebastianus Utu
Gemuruh tanah yang berguncang dahsyat pada Gempa 7,7 Skala Richter di tanah Flores masih menyisakan jejak luka mendalam. Bangunan roboh, retakan menganga di jalanan, dan ingatan akan kepanikan yang datang tiba-tiba menjadi bayang-bayang yang tak mudah sirna.
Sebagai salah satu relawan yang berdiri langsung di antara puing-puing penderitaan, saya menyaksikan sendiri betapa dalam waktu singkat, segala harta benda dan bangunan fisik yang dibangun bertahun-tahun bisa lenyap begitu saja.
Namun, di tengah debu yang membumbung dan jerit tangis yang memecah keheningan, lahir sebuah permenungan dan refleksi panjang dalam diri saya. Refleksi tentang arti kehidupan, keberadaan, dan keberlanjutan.
Sebuah permenungan yang menyadarkan kita bahwa sejatinya, di balik kedahsyatan bencana yang merenggut banyak hal, kita masih diberikan satu rahmat yang paling mendasar namun paling berharga yaitu kesempatan untuk hidup.
Sering kali kita mengidentifikasikan ‘rumah’ sebagai dinding semen, atap seng, dan bangunan fisik yang memberi kita perlindungan dari hujan dan panas. Ketika gempa menghancurkan itu semua, terasa seolah-olah kita telah kehilangan segalanya.
Namun, peristiwa ini mengajarkan kebenaran yang lebih dalam tentang rumah dan kehidupan. Rumah kita yang secara fisik boleh saja runtuh dan hilang ditelan bumi, tetapi rumah yang sebenarnya tidak pernah hancur.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










