Rumah yang sejati itu adalah diri kita sendiri, napas kehidupan, jiwa, dan raga yang masih diberi kesempatan oleh Sang Pencipta untuk terus melangkah.
Selama napas masih berhembus di dada, ‘rumah’ itu tetap berdiri. Kehidupan itu sendiri adalah modal terbesar yang tak ternilai harganya untuk membangun kembali apa yang telah runtuh.
Refleksi ini menemukan kedalaman maknanya saat teringat akan bait indah dari lagu rohani Madah Bakti No. 221, “Dayung Di Arus”.
Liriknya menyerukan panggilan untuk berserah dan percaya saat gelombang kehidupan menghantam:
Tenang tenang mendayung didalam ombak selepas pantai
Tenang-tenang merenung di tengah taufan hidup yang ramai di tengah taufan hidup yang ramai
Bila terbawa arus di dalam doa Laut terenang Sabda penguat doa resapkanlah di dasar hatimu sedalam laut medan hidupmu
Bencana gempa bumi yang kita alami tak ubahnya badai dan gelombang mengamuk yang menghantam perahu kehidupan masyarakat Flores. Ketika bahtera hidup diguncang hebat, rasa takut dan putus asa adalah hal yang manusiawi. Namun, lirik “Tenang-Tenang Mendayung” mengingatkan kita akan satu hal penting: ketenangan iman.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










