Ketenangan ini lahir bukan karena keadaan sekitar kita sedang baik-baik saja, melainkan karena kesadaran penuh bahwa di dalam perahu kehidupan yang rapuh ini, kita tidak pernah mendayung sendirian. Tuhan selalu hadir dan menyertai.
Penyertaan Tuhan di tengah bencana tersebut tidak hadir dalam bentuk keajaiban mistis semata, melainkan menjelma secara nyata melalui hadirnya tangan-tangan orang baik.
Di tengah puing-puing kemalangan, kita menyaksikan bagaimana arus kepedulian mengalir tanpa henti. Dari sesama warga lokal, para relawan, organisasi kemanusiaan, hingga saudari-saudara dari pelosok negeri yang bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya, mereka datang membawa bantuan.
Bantuan makanan, pakaian, tenda darurat, pendampingan trauma, hingga sekadar tegur sapa dan uluran tangan penguat adalah tanda-tangan nyata bahwa kasih itu ada.
Setiap paket bantuan dan setiap genggaman tangan relawan adalah wujud fisik dari penyertaan Tuhan yang membisikkan pesan kehidupan: “Kehidupan ini belum selesai, kehidupan ini harus terus berlanjut.”
Oleh karena itu, di tengah kepedihan dan duka yang mendalam, sikap paling mulia dan paling menguatkan yang perlu kita tumbuhkan adalah keberanian untuk bersyukur.
Bersyukur di tengah bencana bukanlah bentuk pengabaian terhadap penderitaan, bukan pula kepasrahan yang buta. Bersyukur adalah sebuah tindakan iman yang radikal. Sebuah pengakuan tulus bahwa meski kita kehilangan harta benda, kita tidak kehilangan harapan.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










