Oleh: Bernadino Realino Emanuel Seong
ADA pemandangan yang menarik di Kota Kupang dalam beberapa tahun terakhir. Anak-anak muda berbondong-bondong mendatangi pasar loak, atau asyik menggulir layar ponsel mencari kata “preloved”.
Mereka tidak sedang berburu baju baru, melainkan pakaian bekas layak pakai. Kebiasaan ini dikenal dengan nama thrifting. Dulu dianggap memalukan, kini justru jadi gaya hidup.
Bukan Sekadar Hemat
Alasan pertama orang ber-thrifting memang sederhana: hemat. Pakaian bekas dijual jauh lebih murah, sementara kualitasnya sering masih layak pakai. Tapi ada alasan lain yang lebih besar.
Thrifting sejalan dengan apa yang disebut ekonomi sirkular, yaitu model yang membuat barang tetap berguna selama mungkin, bukan langsung dibuang.
Pakaian yang sudah tidak dipakai bisa berpindah tangan, dijual lagi, dan terus memberi manfaat bagi pemilik berikutnya.
Nilainya tidak berhenti di satu orang, tapi berputar. Cara ini berbeda dengan pola lama industri fesyen yang memproduksi, memakai, lalu membuang.
Pola itu membuat industri tekstil jadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat sampah tekstil nasional diperkirakan mencapai 3,9 juta ton per tahun.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










