Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi - FloresPos Net

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Bernadino Realino Emanuel Seong

ADA pemandangan yang menarik di Kota Kupang dalam beberapa tahun terakhir. Anak-anak muda berbondong-bondong mendatangi pasar loak, atau asyik menggulir layar ponsel mencari kata “preloved”.

Mereka tidak sedang berburu baju baru, melainkan pakaian bekas layak pakai. Kebiasaan ini dikenal dengan nama thrifting. Dulu dianggap memalukan, kini justru jadi gaya hidup.

Bukan Sekadar Hemat

Baca Juga :  Menjadi Guru di Indonesia "Hidup Diantara Cinta dan Diskriminasi" Kebijakan Pemerintah (Sebagai Refleksi Hari Guru)

Alasan pertama orang ber-thrifting memang sederhana: hemat. Pakaian bekas dijual jauh lebih murah, sementara kualitasnya sering masih layak pakai. Tapi ada alasan lain yang lebih besar.

Thrifting sejalan dengan apa yang disebut ekonomi sirkular, yaitu model yang membuat barang tetap berguna selama mungkin, bukan langsung dibuang.

Pakaian yang sudah tidak dipakai bisa berpindah tangan, dijual lagi, dan terus memberi manfaat bagi pemilik berikutnya.

Baca Juga :  Bijak Bermedia Komunikasi Sosial Agar Tidak Terpenjara dalam Dunianya

Nilainya tidak berhenti di satu orang, tapi berputar. Cara ini berbeda dengan pola lama industri fesyen yang memproduksi, memakai, lalu membuang.

Pola itu membuat industri tekstil jadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat sampah tekstil nasional diperkirakan mencapai 3,9 juta ton per tahun.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA