Manfaat untuk Lingkungan
Selain berdampak ekonomi, thrifting juga membantu lingkungan. Memakai pakaian bekas berarti memperpanjang umur pakaiannya, sehingga produksi bahan baku baru bisa ditekan.
Di tengah maraknya fast fashion, yaitu pakaian murah yang cepat berganti tren, thrifting menjadi cara sederhana untuk menolak kebiasaan belanja berlebihan.
Industri fesyen memang dikenal boros air dan penyumbang emisi karbon. Jadi, setiap potong baju bekas yang kembali dipakai adalah kontribusi kecil, tapi nyata.
Tantangan yang Perlu Diwaspadai
Tapi bukan berarti tanpa masalah. Pemerintah melarang impor pakaian bekas karena alasan kesehatan dan melindungi industri tekstil dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat Indonesia masih mengimpor 1.840 ton pakaian bekas, dengan nilai mencapai US$1,97 juta. Angka ini jadi rekor tertinggi sejak pandemi. Negara asal terbesarnya adalah Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.
Baju impor yang tidak disterilkan bisa membawa penyakit. Selain itu, banjir barang impor bisa memukul UMKM tekstil lokal.
Karena itu, pelaku usaha dan konsumen perlu sama-sama bijak: utamakan produk preloved dari dalam negeri, pastikan bersih, dan dukung aturan yang berimbang.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










