Geothermal Flores: Untuk Siapa? - FloresPos Net

Geothermal Flores: Untuk Siapa?

- Jurnalis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: RD. Reginald Piperno

FLORES adalah sebuah pulau kecil di ujung Timur Nusantara. Pulau ini memiliki luas kurang lebih 14.300 kilometer persegi.

Pulau ini dianugerahkan Tuhan dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah. Mulai dari alamnya yang indah dengan gunung-gunung yang menjulang gagah berisi sumber kehidupan, hutan rimba yang menjadi paru-paru bumi, tanah subur yang memberikan kehidupan bagi aneka tanaman, mata air jernih dan sungai yang mengalir menghidupi penghuninya sepanjang tahun hingga aneka adat dan budaya yang selalu dijaga dan dijunjung tinggi.

Semua ini bukan sekadar sumber daya alam semata, melainkan titipan Tuhan dan warisan luhur yang dijaga dengan kasih sayang oleh masyarakat Flores turun-temurun dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup, budaya, dan keyakinan mereka.

Namun di tengah aneka kekayaan alam dan kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan warganya, masyarakat Flores kini harus berhadapan dengan bayang-bayang kekhawatiran yang mendalam akan nasib bumi Flores.

Salah satu kekhawatiran yang mendera warga Flores saat ini yakni proyek panas bumi atau geothermal. Meskipun sudah mendapat penolakan yang sangat masif dari berbagai elemen masyarakat Flores dan Lembata, pihak kementrian ESDM dan pihak pengembang proyek terus memaksakan agar proyek ini tetap dilaksanakan.

Pihak pemerintah dan pihak pengembang selalu berasumsi bahwa penolakkan masyarakat Flores ini lahir karena keterbatasan informasi, kurangnya pengetahuan, soal CSR (Corporate Social Responsibility) dan berbagai alasan lainnya.

Salah satu alasan lain yang dikemukakan oleh pihak kementrian ESDM dan pihak pengembang proyek geothermal dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh tiga perguruan tinggi Katolik di IFTK Ledalero, tanggal 23 Juli 2026 yang lalu yakni pengembangan energi angin, air, arus laut, dan tenaga surya di wilayah Flores deemed terlalu mahal, sehingga proyek tenaga panas bumi (geothermal) dianggap sebagai pilihan yang lebih praktis dan dipaksakan untuk terus berjalan di Flores dan Lembata.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih di NTT: Peluang atau Ancaman bagi BUMDes?

Namun di balik alasan “mahalnya biaya pengembangan”, tersembunyi sebuah kenyataan yang sangat ironis: seolah-olah kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat lokal dan kerusakan alam jauh lebih murah harganya dibandingkan biaya pembangunan pembangkit listrik lainnya.

Apakah benar biaya pengembangan energi terbarukan lainnya terlalu mahal? Biaya investasi awal memang sering menjadi ukuran utama perbandingan. Namun perhitungan ini kerap mengabaikan biaya yang sesungguhnya — biaya yang harus dibayar oleh generasi sekarang dan mendatang berupa kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Pihak pengembang sendiri mengakui bahwa biaya untuk memulihkan kerusakan alam berupa manivestasi semburan lumpur panas di Mataloko yang terus menyebar hingga saat ini sama besarnya dengan membuang ratusan mobil mewah ke dalamnya.

Itu berarti biaya pemulihan terhadap bencana yang diakibatkan oleh proyek ini jauh lebih mahal ketimbang biaya proyek itu sendiri. Dan hal ini tentu membawa trauma bagi masyarakat terdampak.

Ketika proyek geothermal berjalan tanpa memperhatikan hak dan keberadaan masyarakat adat, tanah leluhur yang menjadi sumber kehidupan diambil alih, mata air yang menjadi penopang kehidupan ternoda, hutan yang menjaga keseimbangan iklim dan kesuburan tanah rusak, serta ekosistem yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga hancur. Semua ini dihitung seolah-olah tidak bernilai, atau nilainya jauh lebih murah dibandingkan selisih biaya pembangunan pembangkit listrik.

Lebih dari itu, tanah dan lingkungan di Flores bukan sekadar lahan kosong yang bisa diukur dengan angka rupiah. Di sana melekat hak ulayat, kearifan lokal, ikatan budaya, dan hubungan mendalam antara manusia dan bumi yang telah terjaga turun-temurun.

Baca Juga :  Surat Cinta untuk Nagekeo

Ketika tatanan budaya terganggu, sumber penghidupan hilang, dan masyarakat harus menghadapi risiko kesehatan serta kerusakan lingkungan yang sulit dipulihkan, maka yang dikorbankan bukan hanya harta benda semata — melainkan harkat, martabat, dan masa depan suatu komunitas. Apakah benar-benar lebih hemat menukar masa depan rakyat dan kesehatan alam dengan penghematan biaya di atas kertas saja?

Alasan “terlalu mahal” seharusnya menjadi pemicu untuk mencari solusi yang lebih adil, bukan justru memindahkan beban biaya kepada masyarakat yang paling lemah dan bumi yang memberi kehidupan.

Seharusnya kita berupaya menekan biaya teknologi, mencari dukungan investasi yang bertanggung jawab, melakukan riset bersama, serta menyusun kebijakan yang mendorong pengembangan berbagai jenis energi terbarukan secara seimbang dan berkelanjutan — bukan memilih jalan termurah yang justru membebani rakyat dan merusak alam.

Mengorbankan tanah warga, mencemari lingkungan, merusak ekosistem, dan meruntuhkan tatanan budaya semata karena dianggap “lebih murah” adalah perhitungan yang keliru dan tidak adil. Itu bukan hemat; itu adalah penindasan. Itu adalah bentuk perampasan hak yang menyembunyikan diri di balik alasan pembangunan dan kebutuhan energi.

Bumi Flores adalah warisan yang tak ternilai harganya. Biaya apa pun tidak boleh dijadikan alasan untuk merampas hak hidup dan masa depan masyarakat yang telah menjaga bumi ini dengan penuh kasih sayang selama berabad-abad.

Kita patut bertanya: pembangunan untuk siapa? Energi untuk kemaslahatan siapa? Jika rakyat menjadi korban, lalu apa gunanya proyek tersebut? Semoga kita semua sadar: tidak ada biaya yang lebih mahal daripada kehilangan bumi tempat kita berpijak dan hancurnya kehidupan orang-orang yang menjaganya. *

Penulis adalah Ketua Komisi Keadilan dan Perdamai-Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Agung Ende

Berita Terkait

Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi
Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan
Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:55 WITA

Geothermal Flores: Untuk Siapa?

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:21 WITA

Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:52 WITA

Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Berita Terbaru

Opini

Geothermal Flores: Untuk Siapa?

Minggu, 9 Agu 2026 - 21:55 WITA