ENDE, FLORESPOS.net-Tim Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) SSpS menggelar kegiatan pendampingan psikososial (trauma healing) bagi ratusan siswa-siswi di SDK St Antonius Ende 2, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang melibatkan para guru di sekolah itu berlangsung pada Kamis (24/9/2026) pagi hingga siang.
Aksi kepedulian ini dilaksanakan untuk membantu memulihkan kondisi mental dan psikologis anak-anak yang mengalami kecemasan serta ketakutan akibat gempa bumi yang melanda wilayah Pulau Flores beberapa waktu lalu.
Kehadiran Tim JPIC SSpS di lembaga pendidikan tersebut disambut dengan penuh sukacita oleh para guru, orang tua, dan para siswa.
Tim JPIC dan para guru di sekolah itu mengajak anak bernyanyi bersama untuk mencairkan suasana dan mengalihkan rasa cemas.
Melakukan permainan edukatif kelompok guna membangun kembali rasa percaya diri dan kerja sama.
Anak – anak juga diberikan kesempatan untuk menggambar dan menceritakan pengalamannya saat terjadi gempa.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan edukasi mitigasi bencana sederhana agar anak-anak tahu apa yang harus dilakukan secara tenang jika terjadi gempa dan pembagian snack.
Sr Wilhelmina Kato, SSpS, Koordinator Tim JPIC SSpS Flores Bagian Timur mengatakan bahwa anak-anak merupakan salah satu kelompok yang paling rentan mengalami trauma psikologis saat terjadi bencana alam.
Oleh karena itu, kehadiran tim ini bertujuan untuk menghadirkan kembali rasa aman, memulihkan tawa, serta membangkitkan semangat belajar mereka.
Kepala Sekolah SDK Ende 2, Valentina S, Ag menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas inisiatif dan kepedulian yang ditunjukkan oleh Suster-Suster SSpS melalui Tim JPIC.
Menurutnya, kegiatan ini sangat berdampak positif dalam mengembalikan keceriaan siswa, sehingga mereka tidak lagi dirundung rasa takut untuk datang ke sekolah.
“Kami dari SDK Ende 2 sangat berterimakasih atas kegiatan ini. Melalui kegiatan ini diharapkan trauma yang dialami oleh para siswa SDK Ende 2 dapat perlahan hilang sehingga proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat kembali berjalan normal”.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










