Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern - FloresPos Net

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

- Jurnalis

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

PEMENTASAN drama fragmen pada ajang Dies Natalis Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende pada Kamis, 24 September 2026, menyisakan resonansi yang mendalam.

Salah satu lakon yang berjudul “Jangan Katakan Aku Masih Muda” menghidupkan kembali kisah panggilan Nabi Yeremia di tengah keruntuhan moral Kerajaan Yehuda. Kisah kuno ini melampaui batas waktu dan ruang. Ia adalah sebuah lukisan indah yang menggambarkan realitas bangsa Indonesia hari ini dengan sangat telak.

Baca Juga :  Tentang Yoris Nono vs PSN Ngada: 'Terlalu Emosional Om, Saya Ambil Gambar Air Mata Mau Jatuh'

Di atas pentas, Raja Yoyakim digambarkan menabur ketakutan demi melanggengkan kekuasaan. Petani dipaksa menyerahkan delapan puluh persen hasil panen, sebuah penindasan ekstraktif yang mencekik leher rakyat kecil. Potret fiktif ini bermetamorfosis menjadi realitas pahit di Indonesia.

Ketimpangan sosial masih menghantui negeri ini. Korupsi merajalela, dan oligarki semakin berkuasa, sementara kaum miskin terus terpinggirkan. Keadilan sosial yang diamanatkan oleh konstitusi seolah masih menjadi utopia yang jauh dari jangkauan rakyat jelata.

Struktur kekuasaan telah kehilangan legitimasi moralnya ketika ia gagal melindungi warganya sendiri dan lebih sibuk mengeksploitasi sumber daya untuk kepentingan segelintir elit.

Baca Juga :  Keadilan Terhadap Perempuan Indonesia (Catatan Refleksi Peringatan Hari Perempuan Internasional)

Kisah tersebut melukiskan pula bahwa bangsa Yehuda mengalami degradasi kebajikan sipil yang parah. Mereka meninggalkan nilai luhur dan berbalik menyembah berhala.

Fenomena penyembahan berhala di masa kini tidak lagi berwujud patung, melainkan mewujud dalam materialisme dan hedonisme. Generasi muda Indonesia sering kali teralienasi oleh gaya hidup konsumtif dan pengejaran validasi di dunia maya.

Berita Terkait

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Tiga Pesan Utama Wabup Sikka Bagi 708 Wisudawan Kampus Unipa

Minggu, 11 Okt 2026 - 12:09 WITA

Nusa Bunga

Menakar Peluang dan Tantangan Kendaraan Roda Tiga di Indonesia

Sabtu, 10 Okt 2026 - 18:54 WITA