Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
PEMENTASAN drama fragmen pada ajang Dies Natalis Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende pada Kamis, 24 September 2026, menyisakan resonansi yang mendalam.
Salah satu lakon yang berjudul “Jangan Katakan Aku Masih Muda” menghidupkan kembali kisah panggilan Nabi Yeremia di tengah keruntuhan moral Kerajaan Yehuda. Kisah kuno ini melampaui batas waktu dan ruang. Ia adalah sebuah lukisan indah yang menggambarkan realitas bangsa Indonesia hari ini dengan sangat telak.
Di atas pentas, Raja Yoyakim digambarkan menabur ketakutan demi melanggengkan kekuasaan. Petani dipaksa menyerahkan delapan puluh persen hasil panen, sebuah penindasan ekstraktif yang mencekik leher rakyat kecil. Potret fiktif ini bermetamorfosis menjadi realitas pahit di Indonesia.
Ketimpangan sosial masih menghantui negeri ini. Korupsi merajalela, dan oligarki semakin berkuasa, sementara kaum miskin terus terpinggirkan. Keadilan sosial yang diamanatkan oleh konstitusi seolah masih menjadi utopia yang jauh dari jangkauan rakyat jelata.
Struktur kekuasaan telah kehilangan legitimasi moralnya ketika ia gagal melindungi warganya sendiri dan lebih sibuk mengeksploitasi sumber daya untuk kepentingan segelintir elit.
Kisah tersebut melukiskan pula bahwa bangsa Yehuda mengalami degradasi kebajikan sipil yang parah. Mereka meninggalkan nilai luhur dan berbalik menyembah berhala.
Fenomena penyembahan berhala di masa kini tidak lagi berwujud patung, melainkan mewujud dalam materialisme dan hedonisme. Generasi muda Indonesia sering kali teralienasi oleh gaya hidup konsumtif dan pengejaran validasi di dunia maya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










