Oleh: Djoko Setijowarno
PEMBANGUNAN angkutan umum masa depan tidak lagi sekadar berfokus pada pengadaan armada, melainkan pada keberanian merancang terobosan skema pembiayaan dan pemetaannya sebagai hak dasar mobilitas warga.
Di tengah terbatasnya ruang fiskal, sinergi investasi antara lembaga keuangan nasional dan pemerintah daerah menjadi titik balik penting dalam mengakselerasi konektivitas perkotaan secara berkelanjutan.
Rencana keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersama Pemprov DKI Jakarta dalam pendanaan perpanjangan rute LRT Jakarta, seperti koridor Manggarai–Dukuh Atas, Kelapa Gading–JIS, hingga Velodrome–Stasiun Whoosh Halim merupakan langkah strategis yang saling melengkapi.
Beban APBD Terurai, Akselerasi LRT Jabodetabek
Pembangunan infrastruktur berbasis APBD murni jelas sangat menguras ruang fiskal daerah.
Masuknya Danantara sebagai sovereign wealth fund memberi angin segar berupa alternatif pembiayaan non-anggaran tanpa harus mengandalkan skema skema obligasi atau pinjaman daerah.
Langkah ini memastikan APBD Jakarta tetap aman untuk menopang kebutuhan mendasar warga, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga penyediaan subsidi angkutan umum.
Keterlibatan lembaga pembiayaan berskala nasional ini turut menegaskan bahwa fungsi sistem transportasi Jakarta telah melampaui batas administratif wilayah.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










