Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang - FloresPos Net

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Damianus Dionisius Nuwa

DI TENGAH hiruk-pikuk perjuangan memenuhi kebutuhan hidup, ekonomi sejatinya bukanlah sekadar deretan angka dan transaksi, melainkan ruang di mana kemanusiaan kita diuji melalui cara kita saling menopang. Ada sebuah ironi yang menyayat hati ketika ruang kebersamaan yang seharusnya menjadi pelindung, perlahan bermetamorfosis menjadi sangkar besi yang mencekik.

Koperasi, yang dalam DNA-nya memuat semangat kekeluargaan dan gotong royong, kini kerap kali mengalami pembajakan makna. Alih-alih menjadi tangan yang mengulur pertolongan, ia justru berubah wajah menjadi jerat utang yang melilit leher masyarakat kecil.

Baca Juga :  Membangun Politik Sehat Menyambut Pikada 2024-2029

Fenomena ini tidak sebatas hadir sebagai masalah kalkulasi finansial, melainkan sebuah krisis moral yang menuntut kita untuk kembali bertanya: apakah sistem ekonomi kita masih memuliakan manusia, atau justru sedang menggerus martabatnya? Tulisan ini hadir sebagai catatan atas fenomena ini dari perspektif Ajaran Sosial Gereja.

Saat ini, koperasi muncul sebagai salah satu instrumen ekonomi yang diharapkan mampu membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan membangun kesejahteraan bersama. Dengan landasan semangat kekeluargaan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif, idealnya koperasi berfungsi untuk kepentingan bersama.

Baca Juga :  Mgr. Budi yang ‘Mendengar’

Namun, dalam praktiknya, terdapat penyalahgunaan nama koperasi yang mengarah pada praktik pinjaman yang memberatkan masyarakat. Fenomena ini menuntut penilaian yang hati-hati terhadap koperasi, dengan mempertimbangkan transparansi biaya, kewajaran persyaratan, serta perlakuan terhadap anggota.

Berita Terkait

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Berita ini 118 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Rabu, 23 September 2026 - 17:36 WITA

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik

Berita Terbaru

Opini

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Senin, 28 Sep 2026 - 11:36 WITA

Opini

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:58 WITA