Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang - FloresPos Net - Page 2

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis moral ini membawa kita pada refleksi yang lebih mendalam tentang martabat manusia dan keadilan ekonomi. Ajaran Sosial Gereja Katolik menekankan bahwa manusia harus menjadi subjek utama dalam aktivitas ekonomi.

Dalam Katekismus Gereja Katolik ditegaskan bahwa ekonomi mesti melayani kebutuhan manusia dan kesejahteraan bersama, bukan sekadar mengejar keuntungan. Selain itu, Paus Leo XIII dalam ensiklik Rerum Novarum (1891) mengkritik praktik riba yang menekan kaum miskin dan pekerja.

Dalam pengertian keagamaan dan moral, riba berkaitan dengan pemberian beban yang melampaui kewajaran, terutama ketika pihak yang meminjam berada dalam kondisi lemah dan membutuhkan pertolongan.

Baca Juga :  Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF)

Di samping itu, Kompendium Ajaran Sosial Gereja juga menggarisbawahi tanggung jawab sosial dalam praktik ekonomi dengan menolak segala bentuk eksploitasi. Pemberi pinjaman memiliki hak atas pengembalian modal yang adil, tetapi tidak boleh mengorbankan martabat manusia, terutama dalam situasi di mana peminjam berada dalam kesulitan ekonomi.

Namun, refleksi moral tersebut harus berpijak pada realitas akar rumput untuk memahami mengapa masyarakat begitu mudah terjebak dalam lingkaran setan pinjaman ini.

Baca Juga :  Memanggul ‘Nampan Pelayanan’ (Sisip Gagas Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo)

Dalam kenyataan, banyak masyarakat memilih pinjaman harian atau mingguan karena mereka dihadapkan pada kebutuhan mendesak, pendapatan yang tidak tetap, keterbatasan jumlah tabungan, serta kesulitan dalam mengakses layanan keuangan formal.

Biaya pendidikan, kesehatan, kebutuhan pangan, serta modal usaha seringkali mendorong keluarga untuk mencari pinjaman dengan proses yang cepat dan tidak berbelit-belit. Dalam situasi seperti ini, posisi tawar peminjam biasanya menjadi sangat lemah.

Berita Terkait

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Berita ini 170 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Rabu, 23 September 2026 - 17:36 WITA

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik

Berita Terbaru

Opini

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Senin, 28 Sep 2026 - 11:36 WITA

Opini

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:58 WITA