Ketika Air Mata Menjadi Berita: Membaca Kembali Gagasan Walburgus Abulat tentang Jurnalisme Terlibat - FloresPos Net

Ketika Air Mata Menjadi Berita: Membaca Kembali Gagasan Walburgus Abulat tentang Jurnalisme Terlibat

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 15:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Paskalis Semaun, SVD

TULISAN Walburgus Abulat tentang solidaritas kemanusiaan, gempa Flores, jurnalisme terlibat, dan pers sebagai pilar keempat demokrasi mengajak kita melihat kembali apa sebenarnya arti pekerjaan seorang wartawan.

Di tengah dunia media yang bergerak sangat cepat, pertanyaan yang diajukan Wal terasa penting: apakah jurnalisme cukup hanya memberitakan apa yang terjadi, atau harus hadir lebih jauh dalam kehidupan masyarakat?

Bagi Wal, jawabannya jelas. Jurnalisme tidak cukup hanya menjadi pekerjaan untuk menyampaikan informasi. Jurnalisme harus memiliki hubungan dengan kehidupan nyata, terutama dengan masyarakat yang mengalami langsung sebuah persoalan.

Ia menyebutnya sebagai jurnalisme terlibat atau engaged journalism. Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai konsumen pasif. Masyarakat menjadi bagian penting dari proses jurnalistik. Mereka bukan hanya objek pemberitaan, tetapi manusia yang memiliki suara, pengalaman, dan kepentingan yang perlu didengar.

Baca Juga :  Perang Terhadap Narkotika, BNN RI Launching Wisata Bersih Narkotika di Manggarai Barat

Gagasan Wal ini sebenarnya sejalan dengan perkembangan pemikiran jurnalistik modern. Andrea Wenzel dan Jacob L. Nelson, misalnya, melihat engaged journalism sebagai perubahan hubungan antara media dan publik: bukan lagi sekadar hubungan antara media yang memproduksi berita dan masyarakat yang menerima berita, tetapi hubungan yang lebih dekat, dialogis, dan berorientasi pada pembangunan kepercayaan.

Dalam perkembangan ini, keterlibatan publik tidak hanya terjadi melalui komentar atau like di media sosial, tetapi juga melalui proses mendengarkan kebutuhan masyarakat, membangun hubungan dengan komunitas, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk ikut menentukan persoalan apa yang penting untuk diberitakan.

Baca Juga :  Perkuat Kapasitas dan Solidaritas, Ini yang Dilakukan Kopdit Swasti Sari

Di sinilah gagasan tentang jurnalisme terlibat semakin relevan. Masyarakat bukan sekadar audience. Mereka adalah manusia yang hidup dalam persoalan nyata. Thomas R. Schmidt, Jacob L. Nelson, dan Regina G. Lawrence dalam kajian mereka tentang engaged journalism menunjukkan bahwa keterlibatan publik sering dipandang sebagai jalan untuk membangun kembali kepercayaan terhadap media dan memperkuat hubungan antara media dan komunitas.

Berita Terkait

Paroki Reo Distribusikan Sayur Segar ke Puluhan Posko Penyintas Gempa
Damkar Sikka Bantu Padamkan Api di Sekitar Bandara Frans Seda Maumere
Jumlah Korban Jiwa Gempa Flores Capai 135 Orang
Kebakaran Lahan Kebun, Api Hampir Merambah Masuk ke Areal Bandara Frans Seda Maumere
Kondisi Memprihatinkan, Pasar Batu Cermin Mesti Direhabilitasi Segera
Dewan Dorong Pemkab Manggarai Barat Selamatkan Pisang Marmi
Istri Bupati Sikka Berbagi Kasih Bersama Anak-Anak Disabilitas Alma Maumere
PT MSJ dan PT SMS Salurkan Bantuan ke 22 Titik, Ringankan Beban Korban Gempa Nagekeo
Berita ini 369 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 15:56 WITA

Paroki Reo Distribusikan Sayur Segar ke Puluhan Posko Penyintas Gempa

Selasa, 8 September 2026 - 22:14 WITA

Damkar Sikka Bantu Padamkan Api di Sekitar Bandara Frans Seda Maumere

Selasa, 8 September 2026 - 20:23 WITA

Jumlah Korban Jiwa Gempa Flores Capai 135 Orang

Selasa, 8 September 2026 - 20:09 WITA

Kebakaran Lahan Kebun, Api Hampir Merambah Masuk ke Areal Bandara Frans Seda Maumere

Selasa, 8 September 2026 - 17:49 WITA

Kondisi Memprihatinkan, Pasar Batu Cermin Mesti Direhabilitasi Segera

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Jumlah Korban Jiwa Gempa Flores Capai 135 Orang

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:23 WITA