Namun, kepercayaan tidak lahir dari sekadar interaksi di media sosial. Ia membutuhkan hubungan yang nyata, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah tulisan Wal terasa relevan dengan perkembangan media hari ini. Kita hidup dalam zaman ketika informasi bergerak sangat cepat. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi pembuat dan penyebar informasi.
Kecerdasan buatan semakin banyak digunakan untuk mencari data, membuat transkripsi, menerjemahkan, bahkan menghasilkan tulisan. Teknologi tentu dapat membantu kerja jurnalistik, tetapi teknologi tidak boleh mengambil alih tanggung jawab jurnalistik.
Mesin dapat membantu mempercepat pekerjaan. Mesin dapat mengolah data dalam jumlah besar. Tetapi wartawan tetap harus menentukan apakah data tersebut benar, apakah informasi tersebut layak diberitakan, bagaimana konteksnya, dan apa dampaknya bagi manusia.
Yang paling penting, teknologi tidak boleh menggantikan hati nurani. Semakin cepat informasi bergerak, semakin besar pula kebutuhan akan wartawan yang mampu berhenti sejenak, memeriksa, mendengar, dan memahami.
Karena itu, gagasan Wal tentang jurnalisme terlibat mengajak wartawan untuk tetap profesional sekaligus dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Kedekatan itu dibangun melalui kehadiran, mendengarkan, memahami persoalan, memeriksa fakta, dan memberikan ruang yang adil bagi berbagai suara.










