Wal juga mengingatkan bahwa pekerjaan jurnalistik tidak berhenti pada rumus 5W + 1H: who, what, when, where, why, dan how. Rumus tersebut tetap penting sebagai dasar kerja jurnalistik.
Tetapi kehidupan manusia sering kali menuntut pertanyaan yang lebih jauh: lalu apa? Apa dampak dari peristiwa tersebut? Apa yang terjadi dengan masyarakat setelah berita diterbitkan? Apakah persoalan mereka mendapatkan perhatian? Apakah ada perubahan? Apakah suara mereka didengar oleh mereka yang memiliki kewenangan?
Pertanyaan “lalu apa?” membawa kita pada perkembangan lain dalam jurnalisme modern, yaitu solutions journalism.
Karen McIntyre dan Kyser Lough menjelaskan solutions journalism sebagai bentuk peliputan yang tetap ketat secara jurnalistik, tetapi tidak berhenti pada persoalan.
Perhatian juga diberikan kepada bagaimana masyarakat atau lembaga merespons persoalan tersebut, apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, apa yang dapat dipelajari, dan apa keterbatasannya.
Dengan demikian, jurnalisme tidak hanya menunjukkan bahwa sesuatu sedang salah, tetapi juga berusaha memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang berbagai respons terhadap persoalan tersebut.
Dalam konteks inilah gagasan Wal tentang jurnalisme sebagai inspirasi, solusi, dan pembebasan menjadi menarik. Sebuah karya jurnalistik tidak seharusnya hanya membuat pembaca tahu. Ia juga diharapkan membuat pembaca peduli, memahami persoalan, dan kalau mungkin ikut mencari jalan keluar.
Penelitian tentang solutions journalism juga menunjukkan bahwa pemberitaan yang menghadirkan respons atau kemungkinan solusi dapat meningkatkan persepsi pembaca terhadap kualitas berita dan mendorong keterlibatan yang lebih konstruktif, meskipun dampaknya terhadap tindakan nyata tidak selalu otomatis terjadi.










