JAKARTA, FLORESPOS.net-Gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kembali mengingatkan masyarakat Flores bahwa bencana tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menguji ketahanan konektivitas antarwilayah.
Ketika akses jalan terputus dan penerbangan terganggu, distribusi bantuan serta logistik kepada masyarakat terdampak ikut terhambat. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya memiliki jaringan transportasi yang mampu menjadi jalur alternatif dalam situasi darurat.
Hal itu menjadi pembahasan utama dalam diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (10/9/2026), yang dihadiri sejumlah tokoh NTT dan diaspora.
Anggota DPD RI asal NTT, Angelius Wake Kako (AWK), menegaskan Bandara Mbay tidak semestinya hanya dilihat sebagai kebutuhan Kabupaten Nagekeo, melainkan bagian dari sistem konektivitas Flores secara keseluruhan.
“Kita bicara tentang bandara untuk Flores, bukan hanya untuk kepentingan masing-masing kabupaten saja tetapi bagi Flores sebagai satu kesatuan. Itu berarti kita butuhkan bandara yang besar,” ungkap AWK di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Senator asal Ende itu mencontohkan, saat ini penerbangan ke Bandara Frans Seda Maumere sudah dua tahun terganggu akibat erupsi Gunung Lewotobi.
“Masuk dari Labuan Bajo, keluar dari Maumere, misalnya. Namun sudah dua tahun ini erupsi Gunung Lewotobi berdampak pada jalur penerbangan ke Bandara Frans Seda, Maumere. Alternatifnya adalah bandara baru di Mbay,” tambahnya.
Bukan Sekadar Jalur Evakuasi, tapi Penggerak Ekonomi
Menurut AWK, keberadaan Bandara Mbay tidak hanya penting dalam konteks mitigasi dan penanganan bencana, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi Flores.
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










