Bandara tersebut dinilai dapat memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas masyarakat, membuka akses investasi, serta mendukung distribusi barang dan jasa.
“Gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali sistem transportasi udara Flores yang berada di kawasan Ring of Fire,” katanya.
Senada, Justino dari Habibie Aerospace menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap rencana pembangunan Bandara Mbay.
“Gempa dan erupsi Gunung Lewotobi membuat kita harus berpikir ulang atau mereview khusus soal transportasi udara Flores di wilayah Ring of Fire. Tentu saya pun harapkan agar Pemda Nagekeo menyikapi serius karena soal lahan bandara selama ini masih menemukan kendala karena beririsan dengan lokasi pembangunan Brigif. Apakah kita perlu memikirkan lokasi baru, tentu sangat realistis,” tegasnya.
Tantangan Lahan dan Harapan Diaspora
Persoalan lahan menjadi salah satu tantangan utama. Ketua IKBN, Marsel Ado Wawo, mengingatkan agar pembangunan bandara tidak mengorbankan lahan pertanian produktif milik masyarakat.
“Pemda Nagekeo diharapkan mencari lokasi yang mumpuni dan tidak mengorbankan lahan sawah produktif masyarakat petani. Bisa area Anakoli, Munde, dan lainnya,” ungkap Marsel.
Justino menambahkan, selain luas dan kelayakan lahan, pembangunan bandara harus disinkronkan dengan infrastruktur pendukung lainnya.
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










