Namun, di sini kita juga perlu berhati-hati. Wartawan bukan aktivis yang harus menyelesaikan semua persoalan masyarakat. Wartawan tetap memiliki batas profesional.
Tugasnya bukan mengambil alih persoalan, melainkan memastikan bahwa persoalan itu terlihat, suara masyarakat terdengar, fakta terungkap, dan kepentingan publik tidak diabaikan. Dengan kata lain, wartawan bersaksi, bukan mengambil alih kehidupan orang lain.
Karena itu, istilah voice of the voiceless juga perlu dipahami secara tepat. Masyarakat kecil sebenarnya memiliki suara. Mereka hanya sering tidak memiliki akses yang cukup kepada ruang publik.
Wartawan mempunyai kesempatan untuk membuka ruang tersebut. Tugas wartawan bukan berbicara menggantikan mereka, tetapi membantu agar suara mereka sampai kepada masyarakat luas dan kepada para pengambil keputusan. Cerita mereka tetap milik mereka.
Wartawan bertugas menyampaikannya dengan benar, utuh, dan bermartabat.
Di sinilah unsur kemanusiaan dalam jurnalisme menjadi sangat penting. Ketika seseorang diwawancarai dalam keadaan sedang berduka, misalnya, wartawan tidak boleh hanya berpikir tentang mendapatkan kutipan yang kuat. Ada manusia yang sedang berada dalam situasi rentan. Ada kesedihan yang harus dihormati. Karena itu, pertanyaan jurnalistik juga membutuhkan etika.
Tidak semua yang bisa direkam harus ditampilkan. Tidak semua foto yang menarik harus dipublikasikan. Tidak semua informasi yang diperoleh harus langsung diberitakan. Jurnalisme membutuhkan pertimbangan: apakah informasi ini benar, penting bagi publik, dan tetap menghormati martabat manusia.
Dari sini kita sampai pada bagian lain yang sangat penting dari gagasan Wal: jurnalisme tidak boleh cepat melupakan. Media sering hadir dengan sangat kuat ketika sebuah tragedi baru terjadi. Tetapi perhatian publik biasanya cepat berpindah. Hari ini gempa menjadi berita utama. Besok mungkin ada persoalan lain.










