Oleh: Fidelis Boli Uran
INDONESIA hari ini tampak sebagai bangsa yang tidak pernah berhenti bergerak. Dari kota besar hingga daerah, aktivitas berjalan tanpa jeda. Orang sibuk bekerja, mengejar target, mengurus hidup masing-masing.
Di sisi lain, ruang digital seperti TikTok dan Instagram semakin menambah ritme kesibukan itu. Informasi datang begitu cepat, perhatian berpindah dalam hitungan detik. Namun di tengah semua itu, muncul pertanyaan sederhana tetapi penting: apakah kita masih peduli?
Kita hidup di zaman ketika semua hal bisa diketahui dengan cepat. Berita tentang bencana, kemiskinan, bahkan penderitaan sesama, setiap hari hadir di layar ponsel kita.
Tetapi ironisnya, semakin banyak kita tahu, semakin tipis pula rasa kita. Kita melihat, tetapi tidak sungguh-sungguh memperhatikan. Kita tahu, tetapi tidak selalu tergerak.
Fenomena ini juga terasa di sekitar kita, termasuk di wilayah NTT. Ketika bencana terjadi: gempa, banjir, atau kesulitan ekonomi menjadi salah satu kepedulian. Bantuan datang, perhatian meningkat, dan banyak orang terlibat.
Namun, tidak sedikit pula yang hanya peduli di awal. Setelah situasi mulai reda, perhatian perlahan hilang. Mereka yang terdampak justru harus melanjutkan hidup dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Di sinilah kita perlu jujur melihat diri sendiri. Apakah kepedulian kita sungguh lahir dari kesadaran, atau hanya reaksi sesaat? Jangan-jangan kita lebih sibuk terlihat peduli daripada benar-benar peduli.
Media sosial memperlihatkan hal ini dengan jelas. Sering kali kepedulian berhenti pada tindakan membagikan informasi, memberi komentar, atau sekadar menunjukkan empati singkat. Semua itu memang penting, tetapi belum cukup. Kepedulian yang sejati selalu menuntut tindakan nyata, sekecil apa pun itu.
Lebih jauh, kesibukan juga membuat relasi antar manusia menjadi semakin renggang. Kita sering bertemu, tetapi tidak benar-benar hadir. Kita berbicara, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar.
Bahkan dalam lingkungan terdekat, perhatian sering tergantikan oleh layar dan rutinitas. Padahal, sebagai masyarakat yang dikenal dengan budaya gotong royong, kita memiliki nilai dasar yang kuat.
Saling membantu bukan hal baru bagi orang Indonesia, termasuk di NTT. Namun nilai itu bisa kehilangan makna jika tidak lagi dihidupi. Gotong royong tidak cukup hanya diingat, tetapi harus terus dilakukan.
Pemikiran Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa manusia dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap sesama, terutama mereka yang menderita. Artinya, kita tidak bisa bersikap netral atau acuh. Kepedulian bukan pilihan tambahan, melainkan bagian dari kemanusiaan itu sendiri.
Akhirnya, kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan ini dan bertanya: untuk apa semua yang kita kejar, jika kita mulai kehilangan kepedulian? Apa arti kemajuan jika kita semakin jauh satu sama lain?
Indonesia tidak kekurangan orang sibuk. Yang mulai berkurang adalah perhatian yang tulus. Karena itu, di tengah ritme hidup yang semakin cepat, kita perlu belajar kembali untuk melihat, mendengar, dan hadir bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya dibangun oleh kerja keras, tetapi juga oleh kepedulian. Tanpa itu, kita mungkin terus bergerak, tetapi kehilangan arah sebagai manusia. *
Penulis adalah Frater dan Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere, Flores-NTT.










