Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua) - FloresPos Net

Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera

PENDIDIKAN adalah tiang utama peradaban, namun di Indonesia tiang itu tampak keropos di bagian-bagian yang paling vital. Setiap tahun, ribuan anak memasuki ruang kelas dengan harapan, tetapi tidak semua dari mereka keluar dengan bekal yang setara dan layak.

Kesenjangan antara cita-cita konstitusional dan kenyataan di lapangan masih menganga lebar, dan jurang itu tidak menyempit dengan sendirinya tanpa keberanian kolektif untuk bertindak.

Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan di atas kertas; negeri ini memerlukan gerakan nyata yang menyentuh akar persoalan pendidikan secara menyeluruh.

Konsep pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar slogan global yang dikumandangkan dalam forum-forum internasional, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang harus dijawab oleh setiap elemen bangsa.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor empat secara tegas menyatakan bahwa pendidikan berkualitas, inklusif, dan merata harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Baca Juga :  Politik Cinta: Bagaimana Empati Bisa Mengubah Lanskap Politik Kita

Namun realitas di Indonesia memperlihatkan bahwa mutu pendidikan masih sangat ditentukan oleh di mana seseorang dilahirkan dan seberapa tebal kantong orang tuanya. Ketimpangan ini bukan sekadar soal angka statistik, tetapi tentang masa depan jutaan manusia yang terputus dari rantai pengetahuan.

Persoalan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia hari ini bersifat sistemik dan berlapis-lapis, mulai dari infrastruktur yang timpang, guru yang terengah-engah menanggung beban administratif berlebih, hingga peserta didik yang kehilangan motivasi karena sistem pembelajaran yang tidak relevan dengan kehidupan mereka.

Semua ini menegaskan bahwa pembenahan pendidikan tidak bisa diserahkan hanya kepada satu aktor tunggal, yakni pemerintah semata. Dibutuhkan partisipasi semesta, yaitu suatu paradigma keterlibatan yang merangkul keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan sebagai mitra aktif, bukan sekadar penonton pasif pembangunan pendidikan.

Esai ini hadir sebagai sebuah upaya refleksi dan tawaran gagasan atas krisis pendidikan yang tengah melanda Indonesia. Dengan mengurai persoalan yang dihadapi para guru dan peserta didik secara jujur dan kritis, tulisan ini berharap dapat memberi kontribusi pemikiran terhadap arah kebijakan yang lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih berpijak pada realitas lapangan. Karena pada akhirnya, membenahi pendidikan adalah membenahi pondasi masa depan, dan tidak ada investasi yang lebih mulia dari itu.

Baca Juga :  Ujian Skripsi Prodi Teknik Informatika Fakultas Teknologi IKTL: Investasi Sumber Daya Manusia Flores Timur

Wajah Buram Pendidikan Indonesia: Persoalan yang Menghantui Guru

Guru adalah jantung dari sistem pendidikan, namun jantung itu kini berdenyut dengan ritme yang tidak sehat. Beban administrasi yang menumpuk, mulai dari pengisian platform digital yang kerap bermasalah, pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berubah-ubah formatnya, hingga laporan-laporan rutin yang menyita waktu dan energi, telah menggeser fokus utama guru dari mendidik menjadi melayani birokrasi.

Berita Terkait

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Larangan Merokok Sambil Mengemudi
Berita ini 128 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:33 WITA

Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:24 WITA

Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:29 WITA

Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Dampak Gempa Flores Sebabkan 3 Orang Meninggal Dunia di Sikka

Sabtu, 15 Agu 2026 - 19:39 WITA