Penulis: Aschari Senjahari Rawe
PERTANDINGAN Persami Maumere melawan BMP Flores Timur di Soeratin Cup U-17 2026 di Maumere bukan sekadar pertandingan untuk menentukan siapa yang melaju. Laga seperti ini juga menjadi cermin bagaimana sepak bola NTT membangun karakter, sportivitas, dan kepercayaan terhadap perangkat pertandingan.
Kontroversi mengenai sebuah gol dalam pertandingan adalah hal yang dapat terjadi dalam sepak bola. Namun, persoalan terpenting bukan hanya apakah gol tersebut sah atau tidak, melainkan bagaimana pemain, pelatih, official, wasit, panitia, dan penonton menyikapi keputusan tersebut.
Sepak bola akan kehilangan makna pendidikan apabila setiap keputusan wasit selalu direspons dengan emosi, tekanan, atau tuduhan tanpa dasar yang jelas. Sebaliknya, apabila terdapat kesalahan dalam pengambilan keputusan, mekanisme evaluasi harus dilakukan secara objektif berdasarkan regulasi dan bukti pertandingan.
Soeratin Cup U-17 seharusnya dipandang sebagai ruang pembinaan generasi muda. Turnamen 2026 di Maumere melibatkan 20 tim putra dari berbagai kabupaten/kota NTT dan sejak awal ditempatkan sebagai ajang pembinaan serta pencarian talenta muda.
Karena itu, karakter pertandingan harus lebih tinggi daripada sekadar hasil pertandingan. Pemain muda harus belajar menerima keputusan, mengendalikan emosi, menghormati lawan, dan tetap bermain sampai peluit akhir. Pelatih dan official juga mempunyai tanggung jawab besar untuk memberikan contoh kepada pemain.
Di sisi lain, perangkat pertandingan juga harus berani melakukan evaluasi. Jika sebuah keputusan kontroversial menimbulkan pertanyaan publik, maka transparansi dan evaluasi profesional justru akan memperkuat kepercayaan terhadap kompetisi. Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi untuk memastikan kualitas pertandingan berikutnya menjadi lebih baik.
Sepak bola NTT Membutuhkan Perubahan Karakter
Kontroversi Persami versus BMP Flores Timur seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki beberapa hal:
1. Wasit harus konsisten dan berani mengambil keputusan berdasarkan aturan.
2. Pemain harus menghormati keputusan wasit dan tidak mudah terpancing emosi.
3. Pelatih dan official harus menjadi teladan dalam mengendalikan situasi.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 Selanjutnya










