Oleh: Anselmus DW Atasoge
BAGI bangsa dan negara Indonesia, 1 Oktober menjadi hari yang spesial. Bangsa dan negara Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah ‘momen’ peneguhan bahwa Pancasila adalah jiwa kolektif bangsa yang tak tergantikan.
Bahwasanya, ia ‘sakti’ untuk bertahan sebagai fondasi etis dan pemersatu di tengah gelombang zaman yang terus berubah, sebagai kompas moral yang menuntun bangsa ini melewati badai ideologi, krisis kemanusiaan, dan godaan perpecahan.
Bagi saya, kesaktiannya terletak pada kemampuannya menjaga harapan, merawat keberagaman, dan menghidupkan semangat gotong royong dalam setiap denyut kehidupan rakyat Indonesia.
Dalam pandangan filsafat sosial, Pancasila bukan hanya dokumen ideologis, tetapi juga etika sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat. Ia menjadi kontrak moral yang membimbing manusia untuk menolak kekerasan dan merawat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, serta solidaritas.
Pancasila mengajarkan cara hidup bersama yang saling menghormati dan saling menjaga. Kesaktiannya tidak terletak pada keagungan yang tak tersentuh, tetapi pada kemampuannya bertahan sebagai ruang dialog dan rekonsiliasi. Di tengah perubahan zaman dan tantangan sosial, Pancasila tetap menjadi pelita yang menuntun bangsa menuju persatuan dan harapan.
Tragedi 1965 menjadi titik balik sejarah bangsa. Saat kekerasan ideologis mengancam keutuhan Indonesia, Pancasila tampil sebagai peneguh nilai kemanusiaan. Ia hadir bukan untuk membalas, tetapi untuk merawat persatuan.
Dalam pidatonya di Kongres Amerika Serikat tahun 1956, Presiden Soekarno berkata, “Mungkin Anda sudah tahu apa itu Pancasila. Ini merupakan lima prinsip bagi bangsa kami.” Tepuk tangan meriah menyambut kata-kata itu.
Pidato itu seakan-akan membuat dunia melihat Pancasila sebagai milik ‘dunia’ sebagai panduan hidup yang relevan bagi umat manusia. Kesaksian ini menegaskan bahwa Pancasila mampu melampaui batas geografis dan menjadi inspirasi global.
Dalam sebuah diskusi internasional yang berlangsung pada 17 Maret 2016 di Universitas Indonesia, bekerja sama dengan Friedrich-Ebert-Stiftung, Profesor Thomas Meyer dari Universitas Dortmund, Jerman, menyampaikan pandangan yang menggugah tentang relevansi Pancasila di era modern.
Ia menyebut Pancasila sebagai ideologi terbaik abad ke-21, bahkan lebih unggul dibanding neoliberalisme dan fundamentalisme keagamaan yang kini mendominasi wacana politik global.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










