Pancasila, Jiwa Sosial dan Ruang Publik yang Menyatukan Perbedaan - FloresPos Net - Page 2

Pancasila, Jiwa Sosial dan Ruang Publik yang Menyatukan Perbedaan

- Jurnalis

Rabu, 1 Oktober 2025 - 08:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Saya percaya ideologi demokrasi sosial adalah yang paling cocok di abad ke-21,” ujarnya Meyer. Ia pun menekankan bahwa Pancasila memiliki kekuatan untuk menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang progresif, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

Pandangan ini sejalan dengan semangat pidato Presiden Soekarno di depan Kongres Amerika Serikat tahun 1956, ketika beliau memperkenalkan Pancasila sebagai lima prinsip hidup bangsa Indonesia yang dapat menjadi solusi bagi dunia yang terpecah.

Tepuk tangan meriah dari para senator Amerika saat itu menjadi sebuah pengakuan bahwa Pancasila memiliki daya tarik universal sebagai jalan tengah antara ekstremisme dan dominasi ideologi tunggal. Kesaksian dan respons dunia ini memperkuat keyakinan bahwa Pancasila merupakan warisan pemikiran yang relevan bagi peradaban global.

Dr. Izzat Mufti, intelektual dan pejabat tinggi Arab Saudi, memuji Pancasila karena mampu menyatukan bangsa Indonesia yang majemuk.

Baca Juga :  Kemiskinan yang Merajalela dalam Terang Ensiklik Rerum Novarum

Syekh Ahmad Kaftaru, Mufti Syria, dalam ceramahnya di Damaskus tahun 1987, mengungkapkan kekagumannya terhadap masyarakat Indonesia yang sopan, murah hati, dan hidup dalam harmoni lintas agama dan budaya.

Bahkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, dalam kunjungannya ke Indonesia tahun 2020, menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa berbagai agama bisa hidup berdampingan secara damai di bawah naungan Pancasila.

Meski demikian, ‘kesaktian Pancasila’ bukanlah mitos yang tak tersentuh. Ia adalah tanggung jawab sosial yang harus terus dihidupi. Dalam pandangan filsuf sosial seperti Jürgen Habermas, ruang publik adalah arena diskursus rasional.

Di Indonesia, Pancasila adalah ruang publik itu sendiri, tempat warga negara berdialog, berdebat, dan membangun konsensus. Kesaktiannya bersifat relasional. Artinya, ia hidup sejauh kita menghidupkannya dalam praktik sosial, pendidikan, dan kebijakan publik. Ketika Pancasila dijadikan alat dominasi, ia kehilangan kesaktiannya. Namun, ketika ia menjadi medium inklusi dan keadilan, ia menjelma sebagai kekuatan transformatif.

Baca Juga :  Minimnya Pandangan Pemerintah Manggarai Timur terhadap Masyarakat Kurang Mampu

Di tengah arus globalisasi, polarisasi politik, dan erosi solidaritas, Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bahwa jati diri bangsa terletak pada kemampuannya merawat perbedaan dan membangun keadilan.

Kesaktian Pancasila adalah kesediaan kita untuk bertanggung jawab terhadap sesama, terhadap bangsa, dan terhadap kemanusiaan. Karena itu, memperingati hari ini mengandung dua dimensi praksis yakni mengenang masa lalu serentak meneguhkan komitmen terhadap masa depan yang lebih bersatu, adil, dan bermartabat.

Berita Terkait

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Berita ini 111 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Berita Terbaru