Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81 - FloresPos Net

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Melkior Sobe, S.Fil.

Makna Kemerdekaan di Usia ke-81

INDONESIA berdiri di atas fondasi sejarah yang panjang, merayakan usianya yang ke-81 tahun—sebuah pencapaian usia yang matang bagi sebuah republik modern. Namun, perayaan hari ulang tahun kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan, pengibaran bendera, atau euforia perlombaan semata.

Setiap tanggal 17 Agustus adalah momen kontemplasi nasional yang mendalam: Apakah kemerdekaan politik yang direbut pada tahun 1945 telah bertransformasi menjadi kemerdekaan hakiki bagi seluruh rakyat Indonesia?

Jika kemerdekaan dimaknai secara sempit sekadar bebas dari kolonialisme fisik bangsa asing, maka tugas para pendiri bangsa telah selesai. Akan tetapi, jika kemerdekaan dipahami dalam spektrum yang lebih luas—yakni bebas dari kebodohan, bebas dari ketakutan struktural, merdeka dari kemiskinan material, serta bebas dari alienasi budaya dan ekologis—maka proyek kebangsaan kita masih panjang dan menuntut kerja keras kolektif.

Baca Juga :  Menggandeng Ensiklik Laudato Si Dalam Upaya Menciptakan Masyarakat Bebas Korupsi

Di sinilah pendidikan memegang peran sentral. Pendidikan bukan sekadar instrumen mobilitas sosial atau pabrik pencetak tenaga kerja yang patuh pada pasar global. Pendidikan, dalam makna yang sejati, adalah jalan pembebasan.

Melalui tulisan ini, kita akan membedah bagaimana pendidikan, filsafat pembebasan, pemikiran Ki Hajar Dewantara, hikmat klasik Yunani, serta kesadaran ekologis dan pengentasan kemiskinan harus disatukan untuk membangun “Rumah Bangsa” yang kokoh di usianya yang ke-81.

Dari Oikos ke Polis: Hikmat Membangun Rumah Bangsa

Refleksi mengenai tata kelola bangsa sering kali terjebak dalam perdebatan teknokratis dan administratif, mengabaikan fondasi etis yang menopangnya.

Dalam Seminar Nasional Filsafat bertajuk “Hikmat Membangun Rumah Bangsa” yang diselenggarakan oleh Komunitas Circles Indonesia, Dhimas Anugrah memaparkan gagasan penting tentang transisi dari ranah domestik (oikos) menuju kesadaran publik (polis).

Baca Juga :  𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲 𝗕𝗲𝗿𝗸𝘂𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀: 𝗙𝗼𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮

Bangsa Indonesia harus dipahami bukan sekadar sebagai wilayah geografis yang dibatasi oleh garis-garis peta, melainkan sebagai “Rumah Bangsa”—sebuah tempat tinggal bersama yang membutuhkan fondasi moral yang kokoh.

Dalam tradisi filsafat Yunani Klasik, tata kelola negara (polis) memerlukan apa yang disebut oleh Platon sebagai sophia (hikmat), yang berbeda secara fundamental dari technē (keahlian teknis pragmatis seperti pertukangan, pertanian, atau sekadar penguasaan teknologi digital).

Technē menjawab “bagaimana cara melakukan sesuatu secara efisien”, tetapi sophia menjawab “ke mana arah dan tujuan hidup bersama itu harus dibawa”.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Larangan Merokok Sambil Mengemudi
Geothermal Flores: Untuk Siapa?
Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi
Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:24 WITA

Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:29 WITA

Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:56 WITA

Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Gubernur NTT Minta Segenap Pihak Bantu Sosialisasi KUR Bank NTT

Jumat, 14 Agu 2026 - 11:20 WITA