Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang - FloresPos Net

Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Djoko Setijowarno

SETIAP kali kecelakaan fatal yang melibatkan angkutan barang kembali hancur di jalan raya, narasi yang dilempar ke publik hampir selalu seragam: rem blong, ban pecah, atau kelalaian pengemudi.

Di balik pengulangan tragedi tersebut, ada realitas kelam yang sengaja dikaburkan. Keselamatan jalan raya hari ini telah digadaikan demi mengejar target ekonomi jangka pendek yang timpang.

Data Korlantas Polri dan PT Jasa Raharja, angka fatalitas kecelakaan telah melampaui 100 jiwa per hari. Jumlah itu didominasi oleh pengguna sepeda motor yang mencapai 75 persen. Dari jumlah tersebut, porsi pelajar dan mahasiswa (11–25 tahun) sangat menonjol, sering kali berkisar di angka 25 sampai 40 persen.

Baca Juga :  Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF)

Memang ada tren penurunan fatalitas kecelakaan sekitar 8 persen pada mudik 2026 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, profil korbannya masih tetap sama. Didominasi oleh kaum laki-laki yang sebenarnya sedang berada di usia puncak produktivitas mereka.

Sebanyak 61 persen kecelakaan dipicu oleh faktor manusia, baik karena kurangnya kemampuan maupun karakter pengemudi yang berisiko. Penyebab terbesar kedua adalah faktor prasarana dan lingkungan dengan kontribusi 30 persen. Adapun masalah teknis kendaraan menyumbang 9 persen.

Berulang kalinya kecelakaan angkutan barang menunjukkan adanya ketimpangan sistemik di mana publik harus menanggung risiko keselamatan (external cost) demi mengejar efisiensi logistik privat yang semu.

Ketika truk ODOL dibiarkan merusak jalan publik dan memicu kecelakaan fatal, masyarakat sebenarnya sedang ‘menyubsidi’ keuntungan para pelaku industri dengan nyawa dan pajak mereka (melalui APBN/APBD untuk perbaikan jalan). Efisiensi logistik tidak boleh dicapai dengan cara mengorbankan keselamatan publik di jalan raya

Baca Juga :  Fokus Bersama Pemerintah Daerah NTT dan Masyarakat Menuntaskan Stunting di NTT

Menyematkan status human error atau kelalaian pengemudi pada setiap kecelakaan truk adalah simplifikasi masalah yang menyesatkan. Sopir berada di ujung paling hilir dari rantai pasok yang eksploitatif.

Ketika seorang pengemudi terpaksa membawa armada yang tidak laik atau mengemudi dalam kondisi lelah ekstrem demi mengejar target setoran, maka akar masalahnya adalah kegagalan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) di tingkat korporasi dan longgarnya pengawasan hulu, bukan sekadar kesalahan taktis di balik kemudi.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung
Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:34 WITA

Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:50 WITA

Merdeka di Tanah Bergetar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:50 WITA

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:33 WITA

Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Korban Gempa Flores, Manggarai Barat 2 Meninggal, 21 Cedera

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:59 WITA