Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
DI antara lekuk gunung Papua yang menjulang angkuh, sebuah nyawa padam sebelum senja sempat menyapanya.
Roda kehidupan Aris Sanda, seorang putra Toraja yang merantau mengais rezeki, berhenti berputar di tanjakan Gunung Boy, dibungkam oleh desingan peluru yang tak mengenal belas kasihan.
Kisah ini jauh melampaui catatan darah di atas aspal. Ia adalah sebuah ratapan sunyi semesta yang kehilangan salah satu anak terbaiknya.
Di persimpangan antara napas terakhir dan keabadian ini, kita diajak menunduk, merenungkan betapa rapuhnya denyut nadi manusia di hadapan badai kekerasan yang tak berperasaan.
Aris Sanda, pria berusia 45 tahun asal Lembang Tampan Bonga, Toraja Utara, dilaporkan tewas ditembak oleh kelompok bersenjata pada pertengahan September 2026.
Ia sedang menjalankan tugas mulianya mengemudikan kendaraan travel, membawa penumpang serta logistik warga melintasi jalur Trans Wamena–Nduga. Namun, upaya suci mencari nafkah itu direnggut paksa.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia dipaksa merekam video pengakuan politik, lalu kendaraan yang menjadi sumber kehidupannya dibakar hangus. Tindakan ini merupakan pengingkaran radikal terhadap martabat manusia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










